Search This Blog

Sunday, December 9, 2012

[FF : Series] Feel The Rain : [Chapter 2] Without You


FEEL THE RAIN

[Chapter 2] Without You
Author : VhiN
Main Cast : Chi, Key, Rei
Other Cast :  Jung Kyu as Oppa, Hae Ryn
Rate : PG 13
Genre : Friendship, Life
Length : Series Fic

*Author P.O.V

“Hari demi hari, bulan demi bulan…. Dan sekarang tepat 1 tahun oppa pergi….” Chi memandang langit yang cerah.
“Chi… kau mau minum apa? Biar aku ambilkan untuk mu” kata Rei yang telah bangkit dari kursi di kantin. Lalu melihat Chi yang tak menjawab, ia duduk kembali. Chi tetap saja terus menatap langit. Rei memandang Chi, hingga Chi tersadar dari lamunannya.
“Eh?? Rei?? Kau bilang apa tadi” kata Chi.
“Ada apa?” Tanya Rei sambil menatap mata Chi
“Ah…. Rei, sebenarnya….”
“Ah! Chi, sudah jam segini, aku harus pulang. Lagian, kantin juga sudah sepi… Maaf, aku duluan” kata Rei sambil melihat ke jam tangannya dan bangkit dari kursi lalu meninggalkan Chi sendiri.
                Tepat seperti yang dikatakan Chi, 1 tahun telah berlalu. 1 tahun kepergiannya, banyak yang terjadi pada diri Chi. Ia dapat melakukan berbagai hal kini. Jauh di dalam lubuk hatinya, mungkin Chi sangat merindukan oppa. Cara yang diyakini oleh Chi sekarang adalah ia harus melakukan apa yang diinginkannya dan berusaha bukan hanya atas nama dirinya, tapi atas nama oppa. Chi yakin, oppa disana selalu mendukung Chi, ia pasti akan selalu bersamanya. Ujian yang dulu telah di jalankan oleh oppa sebelum ia pergi, kini Chi rasakan. Teringat dulu bagaimana Chi memberikan semangat pada oppa, tersenyum pilu saat ingat kenangan itu dulu. Chi yakin oppa di sana juga memberikan semangat serta doa untuk Chi.

*Chi P.O.V
 
1 tahun hidup tanpa oppa, aku bertemu Rei yang mirip dengan oppa. Aku tahu Rei bukan oppa, hari ini pun ia tak dapat berada disampingku. Padahal, saat ini… hari ini hari terberat bagiku. Mengingat kembali sosok yang telah pergi 1 tahun lalu. Aku meraih tasku dan berlari keluar kantin hingga melewati lapangan sekolah yang luas, ditemani kesunyian dan sinar matahari, aku duduk sebentar di sebuah kursi di taman sekolah. Memandang lurus, mencoba tetap tegar dalam kesendirian.
Di stasiun kereta aku kembali duduk di sebuah bangku, tempat dimana 1 tahun lalu aku menangis sendiri. Dan tempat yang mempertemukanku dengan Key.
“Key… Rei tak sepertimu! Berbeda denganmu… kau selalu ada saat ku butuhkan bukan? Di mana kamu Key… di mana??” Kataku yang kini telah terbenam dalam tangisan.
“Key… bukan Rei! Tapi kau… aku membutuhkan mu!” kataku kembali
Semua orang tak memperdulikan ku, seakan tak ada kejadian apapun. Orang-orang tetap seperti 1 tahun yang lalu. Tak ada yang peduli padaku, hanya Key yang melihatku. Tapi, itu 1 tahun yang lalu! Key sekarang tidak di sini! Ia bahkan tidak tahu kalau aku sedang duduk sendiri menangis seperti dulu.

*Author P.O.V

Orang-orang tetap datang dan pergi dari stasiun itu. Tapi, sepasang mata tak lepas memandang yeoja yang duduk sambil menangis itu. Tubuhnya ingin sekali memeluk yeoja itu dan membenamkan isak tangis yeoja itu pada bahunya. Key datang… melihat Chi dari kejauhan. Ingin rasanya Key berlari mendekati Chi. Tapi, ia tak dapat lakukan.
“Chi… kenapa kau serapuh ini? Apa senyumanmu saat kita bersama hanya untuk menutupi kerapuhanmu? Di mana Rei? Bukankah saat ini Rei lebih berarti dari pada aku? Kenapa kau menyebut namaku?” Tanya Key dalam hati.
                Chi tetap menangis, menguatkan dirinya. Hingga ia cukup kuat untuk berdiri dan berlari memasuki kereta, kereta terakhir untuk hari ini. Key hanya terpaku melihat sosok Chi yang sekarang. Dulu, saat Chi menangis, Key akan diam sambil menuntunnya memasuki kereta. Tapi, kali ini ia tak dapat lakukan itu. Tanpa sadar, tetes air mata telah keluar dari mata Key. Mata yang sangat di kagumi Chi. Air mata Key memecahkan lamunannya. Kereta sudah pergi 5 menit yang lalu. Dan sang pelayan telah member isyarat agar mereka kembali ke penginapan mereka.
“Chi? Pulang terlambat?” tanya eouma Chi
“Aku capek eouma… maaf, kita bicara nanti saja” Kata Chi langsung menaiki tangga menuju kamarnya.

*Chi P.O.V

Sekarang, aku memiliki teman chat. Namanya Hae Ryn. Memang, sudah 1 tahun kami menjadi teman dan saling berbagi info. Walau terbatas oleh waktu dan tempat, tapi kami menjadi akrab dalam 1 tahun ini. Ryn, nama yang biasa ku panggil, ia juga tahu bahwa oppa dulunya adalah admin sekaligus teman berbagiku di grup kami sekarang. Hari ini aku mencoba menghidupkan laptop dan memulai chat bersama Ryn.
 
Chat
With : chi_b1opun@yahoo.com

Ryn421st@yahoo.com

chi_b1opun@yahoo.com : Ryn…

Ryn421st@yahoo.com : Hai Chi… Ada apa?

chi_b1opun@yahoo.com : Sebenarnya.. hari ini sudah 1 tahun oppa pergi


Ryn421st@yahoo.com : Oppa?? Siapa ya?


chi_b1opun@yahoo.com : Oppa! Dulu dia pernah jadi admin di grup kita itu.


Ryn421st@yahoo.com : Wah… ga tau tuh aku


chi_b1opun@yahoo.com : Padahal dulu kamu yang nenangin aku waktu dia udah ga ada!


Ryn421st@yahoo.com : Sorry… aku ga inget

“Kenapa Ryn tak ingat pada oppa? Kenapa semua orang yang aku butuhkan tidak disini?” Tanyaku dalam hati.

*Key P.O.V
#Di Penginapan

“Tuan muda, saya harap anda dapat beristirahat dengan tenang disini. Sudah banyak kejadian yang terjadi hari ini, anda pasti lelah” kata pelayanku.
                Aku hanya mengangguk pelan mengikuti permintaan pelayanku. Aku berjalan pelan menuju tempat tidur. Pikiranku kini hanya terpaku pada yeoja yang tadi kulihat di stasiun. Aku duduk sebentar untuk berpikir.
“ Dimana Rei? Bukan kah ia sudah berjanji akan terus bersama Chi? Hari ini tepat 1 tahun Chi dan aku bertemu, dan itu berarti hari ini tepat setahun juga…”
                Aku langsung berdiri, ingat bahwa hari ini tepat 1 tahun kematian oppa Chi. Aku berlari menuju pintu hotel, menaiki lift, dan bergegas mencari taxi.
“Ajhushii, tolong cepat sedikit!” kataku pada supir taxi

               Sore itu hujan kembali turun membasahi tanah.  Semua orang kini telah membuka payung mereka. Membiarkan mereka tenggelam dalam dinginnya hujan. Aku keluar dari Taxi secepat mungkin.  Membiarkan bajuku basah. Lalu, mengetuk pintu rumah Chi.
“Tok.. tok..”
“Nuguseyo?” terdengar suara ajhuma, eouma tercinta Chi yang membuka pintu.
“Annyeong ajhuma…” kataku sambil membungkuk memberi hormat.
“Key! Bukankah kau pindah? Apa yang terjadi? Ayo masuk! Bajumu basah, nanti kamu flu” kata ajhuma.
“Ajhuma, apa Chi ada?” Tanyaku tak menghiraukan perkataan ajhuma.
“Ah… Chi tadi pergi sebentar. Katanya mau ke supermarket” jawab ajhuma padaku.
“Gumawo ajhuma… aku menyusulnya saja!” kataku membungkuk dan berlari menerobos hujan.

                Aku berlari ke ujung jalan. Melewati beberapa pepohonan di taman. Langkahku terhenti melihat seorang yeoja duduk sendiri dengan payung ditangannya. Ia menunduk sambil melihat tetesan air hujan yang jatuh ke tanah.
“Hei! Yeoja pabo! Kalau mau hujan-hujanan jangan bawa payung” kataku mendekati Chi
“ jangan perdulikan aku… urus saja urusanmu sendiri” kata Chi yang masih menunduk. Sepertinya ia tidak memperdulikan siapa yang berdiri di hadapannya ini.
“Begitu ya?” kataku sambil menunduk untuk melihat wajah Chi. Sepertinya Chi tekejut melihat ku.
“Key!”  teriak Chi yang terkejut. Ia hampir saja menjatuhkan payung ditangannya. Dengan sigap aku memegang payung yang masih di tangannya, agar payung itu dapat melindungiku dari hujan.

Aku hanya tersenyum meliat yeoja di hadapanku ini. Dalam hati, aku bersyukur tidak melihat air mata Chi keluar. Aku tahu, Chi sudah berubah. Chi sudah mulai tegar menghadapi kenyataan ini.
“Kenapa kau disini!” Tanya Chi
“Tidak boleh? Kalau begitu aku pulang” kataku bergurau. Chi langsung memelukku , aku terdiam kaku saat Chi memelukku.
“Bogoshipoyo Key…” Kata Chi pelan. Aku tersenyum di balik punggung Chi.

#Di rumah Chi

“Ganti bajumu” kata Chi sambil memberikan pakaian padaku.
“Gumawo” kataku sambil tersenyum.
                Chi keluar dari kamar, memberikan waktu untukku  ganti baju. Ajhuma sudah membuatkan makanan untuk kami. Aku mendengar suara ajhuma dari atas.
“Chi… panggil Key untuk ikut makan bersama” kata ajhuma.
“Ne eouma…” kata Chi dan ku dengar bunyi langkah menaiki tangga menuju kamar.
“tok.. tok…” Chi mengetuk pintu kamar.
“Key! Di suruh eouma makan!” kata Chi
Aku keluar dari kamar Chi. Chi melihat kearahku. Dia sedikit terkejut melihatku. Aku bingung melihat tatapannya itu. Sambil tersenyum aku berkata.
“Hei! Yeoja! Kenapa kau melihatku seperti itu? Baru sadar kalau aku itu tampan ya?” Gurauku.
“Kau ini apa-apaan sih!” kata Chi yang langsung berbalik menuruni tangga.
“Heh… jangan mengelak! Ayo ngaku! Aku tak akan memberi tahu Rei kalo kau memujiku! Haha” candaku
                Malam itu aku menginap di rumah Chi, karena permintaan mama Chi yang membuatku tidak bisa menolaknya. Pukul 23.00, sepertinya Chi belum bisa tidur. Ia mengetuk pintu kamarku. Aku tahu itu Chi, aku membuka pintu, dan melihat Chi.
“Key! Boleh aku masuk? Main game yuk…” Kata Chi
“Boleh…” kataku tersenyum
                Semalam suntuk kami bermain game. Untungnya besok sudah mulai libur panjang. Kami bermain hingga pukul 02.00. Akhirnya setelah selesai bermain, Chi mulai bertanya padaku.
“Key… kenapa kau ada di sini? Apa kau benar-benar pulang?” Tanya Chi.
“Aku ke sini karena di sana sudah libur duluan…” kataku.
“Terus kenapa kau menyusulku ke taman? Hujan-hujanan lagi!” Tanya Chi kembali.
“Ah… itu karena aku lagi tidak ada kerjaan saja..” kataku berbohong. Tak mungkin aku katakan yang sebenarnya pada Chi, bahwa aku mengkhawatirkannya.
“Tapi kata eouma, kau mencariku di rumah… Dan saat eouma bilang aku sedang pergi, kau menyusulku” kata Chi heran.
“Kau ini… sudah ku bilangkan! Aku tidak ada kerjaan makanya aku ke rumahmu. Saat ajhuma bilang kau pergi, aku menyusulmu” kataku.
“Ya sudah!” kata Chi langsung keluar dari kamar. Aku hanya tersenyum melihat yeoja itu keluar melewati pintu kamar.

*Chi P.O.V
**Pagi Harinya

“Key, ini bajumu sudah kering” kata eouma sambil memberikan pakaian Key yang sudah rapi.
“Gumawo ajhuma..” kata Key tersenyum.
“Aku mandi duluan ya!” lanjut Key padaku.
                Eouma hanya tersenyum melihat kami berdua. Aku pikir, kami sudah seperti kakak beradik, bahkan hubungan kami lebih akrab dari kakak beradik. Eouma mengeluarkan 2 buah tiket taman hiburan dan memberikannya padaku.
“Untukmu dan Key” kata eouma.
“Eouma…” aku menatap eouma, lalu tersenyum. Eouma tahu, hari ini hari special untuk kami berdua.

“Nih.. gentian” kata Key memberikan handuk padaku.
“Key! Kita ke taman hiburan yuk!!” kataku merangkul tangan Key.
“Boleh” kata Key tersenyum.
“Mandi dulu sana!” sambung Key sambil mengacak rambutku. Ia tersenyum.
                ’10.00’ angka yang terdapat pada jam tanganku, hadiah pemberian eouma. Kami sudah berada di taman bermain. Aku membawa kamera kesayanganku. Kami benar-benar bersenang-senang di sana. Hari ini adalah hari special. Tanggal 24 Mei adalah tanggal yang sangat menyenangkan. Cuaca pun ikut tersenyum mengikuti kami berdua. Tanpa mendung, tanpa hujan. Aku melarikan diri dari Key, aku mencari penjual balon. Dan aku menemukannya.
“Ajhushi… aku beli yang ini!” kataku menunjuk sebuah balon berwarna kuning.
“Oh… ini dia, nona” kata penjual balon padaku sambil memberikan balon itu. Aku membayarnya.
“Gumawo ajhushi…” kataku tersenyum.
                Balon itu akan aku berikan pada Key. Aku juga sudah membuat sebuah cup cake untuk Key. Key tak tahu, kalau malam itu aku sudah membuatkan cup cake untuknya sebelum aku dan dia bermain game. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku dan Key.

*Key P.O.V
#Di tempat aku sekarang berdiri (Saat Chi sedang membeli balon untukku)

“Kemana Chi tadi?” kataku yang sekarang berdiri ditengah-tengah taman bermain.
“Tadi katanya ke toilet, lama banget” kataku kembali yang mulai kesal menunggu Chi.
                Aku melihat sekeliling untuk mencari sosok yeoja yang ku cari. Beberapa yeoja yang kelihatan hanya berbeda 1-2 tahun denganku, menghampiriku.
“Annyeong…” kata yeoja-yeoja itu.
“Annyeong…” jawabku acuh.
“Oppa, namamu siapa? Boleh kenalan?” Kata salah satu yeoja
“Namaku Key”  kataku sambil melihat sekeliling, lalu aku menemukan orang yang kucari. Yeoja itu berdiri tak jauh dariku, ia memegang sebuah balon berwarna kuning.
Chi mendekatiku tanpa memperdulikan yeoja-yeoja yang mengajakku berbicara. Ia mengeluarkan kameranya, dan…
“Click..” Chi memotretku. Aku tak memperdulikannya, dan berkata.
“Hei! Kau kemana saja? Aku mencari mu!” kataku pada Chi
“Aku beli ini untukmu!” Kata Chi memberikan balon itu padaku
“Hahaha apa-apaan ini??” Tanyaku sambil tertawa.
“Saengil Chukae Hamnida Key…” kata Chi memelukku, aku tersenyum.
“Saengil Chukae Hamnida Chi…” balasku kembali. Rambut Chi sudah benar-benar panjang dari kami pertamakali bertemu.
                Kami saling memandang, lalu tertawa. Aneh rasanya kami mengucapkan kata yang sama pada saat itu juga. Yeoja-yeoja yang tadi menegurku mulai menjauh dari kami berdua. Dari kejauhan aku dengar mereka berkata kesal.
“Ternyata sudah punya Yeojachingu…” kata mereka
Yeojachinguku? Bukan… Chi  bukan yeojachinguku, kami hanya bersahabat. Chi dan aku berjalan menuju sebuah cafe di antara toko-toko mainan di taman bermain. Kami memesan makanan, Chi mengeluarkan cup cake buatanya dan memberikannya padaku. Di saat yang bersamaan, aku juga mengeluarkan sebuah cup cake untuk Chi. Heran melihat kedua cup cake itu, dan kami kembali tertawa melihat apa yang kami berikan satu sama lain.
“Cup cake buatanmu?” Tanyaku. Chi mengangguk pelan.
Aku mengeluarkan kamera dan memotret cup cake itu. Cup cake yang sederhana, tapi entah kenapa di mataku begitu indah. Chi juga mengambil kameranya, dan memotret cup cake pemberianku.



*Chi P.O.V
Aku benar-benar senang merayakan ulang tahunku bersama Key. Ini adalah yang ke dua kalinya kami merayakan ulang tahun bersama. Aku sangat bersyukur Key ada di sampingku. Key juga memberiku sebuah cup cake. Cup cake itu sangat lucu! Ada lilin di atasnya, aku memotret cup cake itu.
Aku terus memandangi Key yang telah menghabiskan makanannya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu!” kata Key sambil mendekatkan wajahnya padaku.
“Ah!!” Aku terkejut melihat muka Key yang begitu dekat dengan mukaku. Key hanya tersenyum.


“Kapan kau mewarnai rambutmu!?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Rambutku? Hahaha kau baru sadar! Tadi saat aku ke toilet, aku di tarik seorang namja ke sebuah pemotretan! Ia bilang, aku cocok jika mewarnai rambutku” kata Key menjelaskan.
“Pantesan, lama banget ke toilet. Lalu ia mengecat rambutmu? Untuk apa?” Tanyaku heran.
“Aku jadi modelnya… haha ia bilang, ia kan posting ke twitternya. Yah.. gak apalah! Mumpung lagi libur, tidak masalah aku mewarnai rambutku. Kau suka kan?” kata Key menggurauiku.
“Biasa saja” kataku memalingkan wajah. Key tersenyum.
“Lihat fotoku yang kau ambil tadi!” kata Key menarik kameraku. Ia melihat fotonya, dan kembali tersenyum.
Matahari sudah mulai terbenam. Key dan aku berjalan menuju halte bus. Hari ini benar-benar menyenangkan.
“Nih!” kata Key memberikan sebuah kotak kecil padaku.
“Apa ini?” kataku.
“Buka saja!” kata Key yang menatap keluar jendela bus. Aku membuka kotak itu, sebuah gantungan handphone berbentuk lumba-lumba. Aku tersenyum. Aku benar-benar menyukai lumba-lumba, dan hanya Key seorang yang tahu.
“Sebagai balasannya!” kataku melemparkan sebuah bola transparan.
“Apaan nih?” Tanya Key
“Kalau kau lagi sedih atau merindukanku, kalau lihat bola itu kau pasti tersenyum” kataku
“Haha… tentu saja aku akan ingat padamu, habis… bola ini mirip dengan mukamu! Sama-sama bulat! Haha” gurau Key
“Ih!! Ya udah! Sini, ga jadi!” kataku mencoba mengambil bola itu.
“Eits!” Key menjauhkan bola itu dariku.

Kami sudah sampai di pemberhentian bus. Hanya beberapa kilometer lagi  kami sampai di rumah. Kami berjalan beriringan. Hingga Rei berdiri di pagar rumahku.

*Rei P.O.V

Aku menunggu Chi di luar rumahnya. Eouma Chi sudah menyuruhku masuk ke rumahnya, tapi aku menolak. Aku ingin menyambutnya saat ia pulang. Hari ini hari ulang tahun Chi, aku ingin memberikannya hadiah di dalam jaketku ini. Chi pernah bilang ia ingin sebuah kotak musik. Kotak musik ini sangat kecil, karena ia bilang kalau kotak musik itu kecil, ia bisa membawanya ke manapun. Aku menemukan sosok yeoja yang sangat ku cintai berjalan beriringan dengan seorang namja. Namja yang ku kenal, sahabatku, Key.
“ Key…” kataku terkejut melihat namja itu ada di sini.
“Hei..” balas Key
“Kapan kau tiba!” kataku sambil memeluk Key. Key balas memelukku, walau kelihatannya ia tak senang dengan kehadiranku.
“Rei, aku ingin bicara padamu. Chi… kau pulang saja dulu!” kata Key pada Chi. Ku lihat Chi mengangguk pelan, dan berjalan menuju rumahnya.
                Key dan aku berjalan menuju taman kota, kami berjalan dalam diam. Apa yang terjadi pada Key. Ku lihat Key berhenti tepat di tengah-tengah taman. Ia berbalik, dan…
“Buk!” sebuah pukulan sudah mendarat di mukaku.
“Ada apa!?” Kataku yang masih terkejut.
“Sudahku katakan… jangan sakiti Chi. Kau sudah membuatnya menangis!” kata Key sinis.
“Kapan aku membuatnya menangis?” Tanyaku heran.
“Cihh… kau masih mengelak! Aku melihatnya menangis sendiri di stasiun kemarin! Kau di mana saat itu?” kata Key
                Aku hanya diam, aku tak mengerti kenapa Chi menangis? Apa waktu aku pulang lebih awal dari Chi kemarin? Key meninggalkanku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya akulah yang salah telah meninggalkan Chi waktu itu. Sebenarnya aku tak ingin meninggalkannya sendiri, tapi saat itu keinginanku membelikannya hadiah begitu besar, sehingga aku meninggalkannya sendiri.

*Key P.O.V

“Key? Mana Rei?” Tanya Chi saat ia membukakan pintu untukku.
“Ah… katanya ia lupa ada keperluan. Jadi pulang duluan” kataku berbohong.
“Oh…” balas Chi yang terlihat sedikit kesal.

“Ajhuma, Chi… aku akan pulang ke New York besok pagi…” Kataku saat kami sedang makan malam.
“Kenapa cepat sekali!?” Kata Chi.
“Ia… jangan terlalu terburu-buru Key… kau baru 3 hari di sini” kata ajhuma.
“Maafkan aku ajhuma… ada sesuatu yang aku harus selesaikan di sana” kataku menjelaskan.
“Aku duluan” kata Chi berdiri meninggalkanku dan ajhuma.
“Key… beri penjelasan pada Chi ya?” kata ajhuma menyarankan padaku.
“Baik ajhuma… gumawoyo… makanan malam ini sangat enak!” kataku.
“Key… saengil chukae hamnida” kata ajhuma. Aku senang, ternyata ajhuma mengingat ulang tahunku.
“Gumawoyo ajhuma…” kataku tersenyum lalu menaiki tangga.
                Aku menaiki tangga, mencoba mencari alasan agar Chi bisa membiarkanku kembali ke New York. Aku mengetuk pintu kamar Chi. Tapi Chi tetap tidak membukakannya. Aku tersenyum, dan berkata.
“Chi… aku masuk ya!” kataku.
                Aku masuk, dan melihat Chi sedang berbaring di ranjangnya menghadap ke dinding. Aku tahu Chi tak ingin melihatku. Aku duduk di samping Chi.
“Hei! Kalau kau tidur seperti itu, kau bisa kena tindihan!” kataku bergurau. Chi langsung duduk menghadapku. Chi sangat takut dengan yang namanya hantu.
“Kenapa kau mau kembali ke sana…” kata Chi yang matanya berkaca-kaca melihatku.
“Tadi aku sudah katakan…  aku ada urusan di sana… Ulang tahun appa ku. Sudah lama aku tak merayakannya bersama appa…” kataku tersenyum.
“Appamu ulang tahun? Kapan?” Tanya Chi
“3 hari lagi” Aku masih tersenyum melihat yeoja yang di depanku.
“Baiklah…” kata Chi menunduk. Aku mengelus pelan kepalanya, lalu beranjak dari tempat tidur Chi dan duduk di kursi dekat meja belajar Chi.
Aku melihat benda yang tidak asing. Rubikku, Chi selalu bilang akan menyelesaikan rubik itu. Ku lihat, rubik itu tidak tersusun sesuai warna. Sepertinya ia belum menelesaikannya.
“Hei! Apa ini!?” Tanyaku pada Chi
“Eh?” Chi terkejut
“haha masih kau simpan ya?” kataku mengambil rubik pemberianku itu.
“Sini!” Chi menarik rubik itu dariku. Dan berbalik kea rah dinding.
“Hahaha…” aku tertawa

*Chi P.O.V

                Aku melihat dari balik punggungku, Key tertawa. Sangat tampan, rambut yang di catnya tadi begitu pirang saat terkena cahaya lampu.
Aku menggelengkan kepala untuk memutuskan lamunanku.“Apa yang aku pikirkan!” kataku dalam hati. Key bingung melihatku, lalu ia keluar dari kamarku dan menutup pintu kamar.
**Esok harinya
“Ajhuma… gumawoyo ajhuma memperbolehkanku menginap di sini” kata key yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Key… kamu sudah ajhuma anggap anak ajhuma… jadi jangan sungkan. Kembalilah lagi ke sini” kata eouma.
“Gumawoyo ajhuma” Key menunduk memberi salam.
“Eouma… aku akan mengantar Key” kataku.
“Ne…” kata eouma tersenyum.

#Di bandara

“Di mana Rei?” Tanyaku yang mulai kesal. Padahal, tadi malam aku sudah memberi tahu Rei kalau Key akan pulang hari ini.
“Biarkan saja, Chi… jaga dirimu ya! Kalau kau menangis, panggil aku ya?” kata Key tersenyum.
“Memangnya kau akan dengar?” Tanyaku bergurau.
“Tentu saja! Aku kan superman! Haha” gurau Key. Kami tertawa bersama.
“Hati-hati ya Key! Berjanji kau akan pulang” kataku yang mengacungkan jari kelingkingku menjadi huruf C.
“Yakssok!” kata Key ikut melingkarkan jari kelingkingnya padaku.
“Aku pergi dulu ya..” katanya memelukku.
                Key pergi bersama 2 orang pelayannya. Ia sempat melambaikan tangannya padaku. Setelah pesawat Key lepas landas, tiba-tiba Rei muncul di hadapanku.
“Kau kemana saja! Key sudah pergi tuh…” kataku kesal.
“Chi…” Rei memanggil namaku.
“Mwo?” Tanyaku singkat.
“Kita akhiri saja hubungan kita…” kata Rei padaku.
“Apa yang kau katakana Rei!?” Tanyaku terkejut.
“Aku tak bisa bersamamu… ada orang yang ku sukai” kata Rei. Aku benar-benar tak percaya. Rei melakukan itu padaku.
“Kau jahat Rei!” Kataku menangis meninggalkan Rei.
 “Apa yang di katakana Rei? Kenapa secepat ini” kataku dalam hati yang masih berlari pulang ke rumah sambil menangis.

*Rei P.O.V

“Aku memang jahat Chi… Aku sudah membuatmu menangis… Bahkan kau sekarang menangis karnaku” kataku yang berdiri melihat ke bawah.
2 minggu berlalu sejak kejadian itu. Kini Chi dan aku sudah masuk sekolah kembali. Walau bertatap muka, kami hanya saling diam. Sepertinya Chi tak ingin melihatku. Aku duduk di ujung kelas, dekat sekali dengan jendela.
Saat pelajaran bebas, aku meletakkan kepalaku di meja. Arah pandanganku hanya pada satu, yeoja di ujung kelas yang begitu dekat dengan pintu. Aku  memperhatikan Chi yang hanya diam.

Thursday, December 6, 2012

[FF : Series] Feel The Rain : [Chapter 1] Meet You Again

FEEL THE RAIN

[Chapter 1] Meet You Again
Author : VhiN
Main Cast : Chi (OC), Key (OC), Rei (OC)
Other Cast :  Jung Kyu as Oppa (OC)
Rate : PG 13
Genre : Friendship, Life
Length : Series Fic

*Chi P.O.V
“Heiii Key!! Tunggu!” teriakku pada Key sahabatku yang sedang berlari mengejar waktu.
“Cepat sedikit dasar yeoja!” balas teriak Key sambil berlari.
Aku memang menjalankan hidupku seperti biasa, tapi dalam hatiku, aku tak mungkin melupakan namja itu. Key, namja yang berlari di depanku sekarang ini banyak memberiku kekuatan. Kebanyakan orang akan berpikir aku dan Key adalah pasangan kekasih. Tapi bukan begitu cerita yang sebenarnya.

           Saat Oppa... Namja yang menemaniku telah tiada, Key datang. Saat hujan turun di stasiun kereta api dengan udara yang dingin, aku yang duduk diam sambil mengingat akan namja itu, menangis di sudut stasiun, di sebuah kursi yang jauh dari keramaian, dan saat itulah Key datang membawa sebuah minuman untukku. Walau saat itu tidak saling kenal. Key duduk disampingku yang diam terbenamkan air mata. Key terus berada disampingku, hingga ia menuntunku menuju kereta terakhir sambil tersenyum.
#Di kelas
“Yah.... syukur aku bertemu dengannya.” Sebutku dalam hati sambil memandangi punggung namja di depanku itu.
“Chi? Chi? Heiii yeoja!!” Tegur Key yang telah berbalik memandangiku yang setengah terkejut.
“Apa kau tidak asing dengan wajah itu?” tanya Key sambil menunjuk ke arah belakangnya dengan ibu jari berhias cincin.
Tanpa pikir panjang aku melihat orang yang ditunjuk Key. Aku melihat seseorang berdiri di depan kelas. Semua mata tertuju padanya saat ia memperkenalkan diri. Tingginya, potongan rambutnya, senyumnya, gayanya, dan.... matanya. Mataku tak henti melihatnya. Tak terasa air mata telah membasahi wajahku.
“Key… tak mungkin… itu… itu oppa!” kataku pada Key.
“Hei! Oppamu itu gak mungkin sekolah di sini, dan gak mungkin bakal sekelas dengan kita!” kata Key meyakinkanku.
“Tapi… dia mirip dengan oppa…” aku meyakinkan Key.
“Lihat saja nanti!” balas Key yang langsung memutarkan badanya ke depan.
“Tidak mungkin....” kata itu yang terusku ucapkan, mungkin telah 100 kali kata itu keluar dalam benakku sambil memperhatikan namja itu.
#Dikantin
“Mwo?? Jinja? Dia benar-benar mirip dengan namja itu?!” teriak Key sambil melihat foto oppa di ponselku.
“Entahlah.. aku tak yakin...” kataku.
“hmm... kalau dilihat dari foto ini sih... lumayan mirip! Tinggal satu lagi yang kurang!” kata Key.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sifatnya! Yahhh… Tinggal kamu buktikan dia sama seperti namja itu, atau tidak!” kata Key sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan mukaku.
Aku hanya menghela nafas melihat Key. Dan kami melanjutkan makan siang. Sesekali Key melontarkan lelucon agar aku tersenyum. Aku memang tersenyum sesekali. Hingga teriakan-teriakan  yeoja di kantin memutuskan lelucon Key.
“Rei! Rei! Makan siang bersama kami saja!” teriak sekelompok yeoja di sudut kantin
“Dengan kami saja Rei!” teriak kelompok yeoja lainnya.
            Namja yang diteriaki oleh mereka itu hanya menghela nafas, sambil berjalan menuju mejaku dan Key. Ia berhenti untuk melihat kami berdua, dan berkata.
“Sorry, kalian teman sekelasku kan?” tanyanya pada kami
“Yeah..” balas Key
“Baguslah... aku susah mendapatkan tempat tenang. Mereka selalu teriak-teriak ditelingaku” kata namja itu sambil duduk di sampingku.
“Nama kalian Chi dan Key kan? Mannaseo bagapseumnida” lanjutnya
“yeah...” jawab Key acuh
Aku hanya melihat Key dan Rei sebentar dan melanjutkan makan. Meja kami benar-benar hening, satu sama lain tidak ada yang membuka pembicaraan. Beberapa bisikan sesekali terdengar di telingar di telingaku. Seperti biasa, aku tetap tak perduli apa yang dikatakan mereka.
Bel berbunyi tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai. Key langsung berdiri dan aku pun ikut berdiri, meninggalkan namja itu sendirian duduk terpaku sambil memandangi punggung kami berdua.

*Rei P.O.V
“Yah… hujan.. Aku tak bawa payung..” kataku dalam hati
Sore itu hujan membasahi lapangan disekolah. Sesekali para murid menerobos hujan. Menutupi kepala mereka dengan tas. Aku terus melihat mereka. Hingga hanya tinggal aku dan Chi, teman sekelasku yang tak pernahku dengar suaranya. Ingin sekali aku mendengar suaranya, hingga aku memberanikan diri untuk menegurnya.
“Hei...” tegurku pada Chi.
Chi tak mengheraniku, kelihatanya ia berniat berlari menerobos hujan. Tapi dengan satu gerakan sigap aku menarik tangannya, dan berkata.
“Chi, ada apa? Apa ada yang salah denganku?” tanyaku heran. Ia terus diam sambil menatapku.
“Hei jawab aku” Kataku sambil melihat Chi yang terus diam.
            Tiba-tiba Chi mengangis. Suara hujan  membenamkan isak tangis Chi. Aku hanya terdiam melihatnya, tak tau apa yang harus aku lakukan. Hingga akhirnya aku menguatkan diri, dan kembali berkata.
“Chi.. maaf. Aku hanya ingin kau menyebut namaku dan bicara padaku. Panggil namaku, Chi! Hanya kau dan Key yang mengacuhkanku” kataku meyakinkan Chi agar ia berkata.
“Chi??” kata Key terpaku ditengah hujan dengan payung ditangan.
“Sepertinya tadi ia pulang duluan. Apa yang dilakukanya disini?” tanyaku dalam hati ketika melihat Key.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Key padaku yang saat itu masih kaku sambil memegang tangan Chi.
            Dengan sigap, Key menarik Chi dalam pelukannya. Sepertinya Key salah paham padaku. Ia terlihat begitu marah. Belum sempat aku menjelaskan apa yang terjadi, Key telah menuntun Chi masuk ke kelas meninggalkan ku sendiri.

*Author P.O.V

“Minumlah....” kata Key sambil memberi minuman pada Chi
“Gumawo...” gumam Chi
“Tenanglah Chi. Dia bukan namja itu! Dia Rei!!! Kau jangan membayangkan bahwa Rei itu adalah oppamu! Oppamu hanya ada dalam hatimu! Tidak pada diri Rei” kata Key sambil meyakinkan sahabatnya itu.
“Ayo ku antar” lanjut Key sambil mengambil jaketnya yang tadi diletakkannya disebelah Chi.
            Key memasangkan Jaketnya pada Chi. Chi diam tanpa melawan saat Key bilang akan mengantarkannya pulang ke rumah. Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah dan menerobos hujan dengan sebuah payung.

*Rei P.O.V

“Haruskah aku mengikuti mereka?” tanyaku dalam hati saat Key dan Chi mulai berjalan menerobos hujan yang masih deras.
            Berlari dengan tas di atas kepala, aku mencoba agar Chi dan Key tidak menyadari bahwa aku mengikuti mereka. Berjalan dan terus berjalan. Aku tetap mengikuti mereka hingga Chi dan Key memandang sebuah kursi kosong di sudut yang jauh dari keramaian di stasiun kereta api. Lalu ke duanya saling memandang satu sama lain. Dan masuk ke dalam kereta yang sudah berhenti tepat di depan mereka. Aku masuk dari pintu yang berbeda.
“Masuklah....” kata Key sambil tersenyum memandangi Chi.
“Gumawo Key..” balas Chi pelan dan masuk ke rumah.
            Aku terus melihat mereka, aku berdiri di hadapan Key. Menatap hampa ke dalam mata Key yang masih terpaku melihatku. 1,2,3....hingga 30 detik berlalu. Kami masih tetap saling pandang dan tanpa berharap akan di jawab oleh Key, aku berkata.
“Aku tahu ada sesuatu yang membuat kalian tidak ingin berkata apapun padaku. Mungkin memang bukan aku yang membuat kalian seperti ini, tapi apa aku salah berada di hadapan kalian?” tanyaku  pada Key.
“ikut aku, rumahku ada di dekat sini. Akan ku beri tahu semuanya hingga kau menyadari betapa kehadiranmu sangat menyakitkan. Bukan bagiku, tapi bagi Chi seorang.” Kata Key tegas.

*Author P.O.V
#Jalan menuju rumah Key

            Mereka berjalan lurus dari rumah Chi. Tak lama berjalan, di lihat Rei, Key berhenti di depan sebuah rumah. Rumah yang dapat di bilang paling megah diantara semua rumah yang ada disana. Dengan pagar yang tinggi, satpam yang terus berjaga, hingga isi rumah tampak jelas di balik pagar yang tinggi. Rumah yang di desain dengan dindingnya penuh kaca. Key masuk dengan di ikuti Rei. Rei memang sering memasuki rumah semegah ini. Karena Rei sering di ajak oleh orang tuanya untuk diperkenalkan sebagai pewaris perusahaan. Tapi entah kenapa rumah Key berbeda. Rumahnya.... terasa lebih sepi. Walau di setiap sudut para pelayan tetap memberi salam pada sang tuan muda dan temannya. Mereka berhenti di sebuah ruangan. Yang sudah di duga Rei itu adalah ruang tenang untuk tuan muda.
“Duduklah...” kata Key sambil melepaskan jaketnya yang tadi dipakai Chi.

* Key P.O.V
“Duduklah...” kataku pada Rei. Rei mengikuti intruksiku.
“Sorry, bukan maksud untuk menyinggung, tapi mana orang tuamu? Ku lihat hanya pelayan di sana sini.” Tanya Rei dengan sopan.
“Entahlah... aku tak tahu” kataku dengan senyuman.
“To the point! Rei, tanpa kau sadari, kau mirip dengan seseorang yang telah meninggalkan Chi. Ia telah pergi, walau Chi terus mengatakan ia baik-baik saja. Tapi aku tahu dia sakit” kataku sambil menaruh minuman kaleng di atas meja tepat di depan Rei duduk
“Benarkah dia mirip denganku? Tak terpikir olehku bahwa dia akan terluka” kata Rei menyesali keberadaannya.
“Yah.. kau benar. Lihatlah matanya saat ia melihatmu. Sakit itu memang ada, tapi dia tipe yang tidak akan mengungkapkannya walau sesakit apapun” lanjutku.
“Bisakah aku katakan sesuatu padanya?” tanya Rei ragu.
“Entahlah... aku tak tahu” kata itu terucap lagi dari mulutku ini.
“Memang, saat ia melihatku berbeda dari cara orang lain melihatku. Bukan rasa simpati yang saat ini ada disini” kata Rei sambil memegang dadanya.
“Tapi rasa cinta” kataku menyambung perkataan Rei. Aku tahu, Rei menyukai Chi. Dia tak akan duduk di sebalah Chi saat di kantin kalau ia tidak menyukainya. Itu salah satu tipe manusia yang sering ku amati saat bosan.
“Yah...” balas Rei singkat, mengakui bahwa perkataanku benar. Aku hanya tersenyum dan berbalik memandang hujan yang masih deras dibalik kaca rumahku. Hingga Rei pamit pulang, aku masih tidak memperlihatkan wajahku, entah apa yang terjadi padaku saat ini. Rasanya sakit saat mengetahui bahwa Rei menyukai Chi.

*Chi P.O.V
#Di kamarku (saat yang bersamaan dengan pembicaraan Key dan Rei)

“Dia bukan oppa... aku tahu itu. Tapi kenapa aku tak dapat melupakan oppa” tanyaku dalam hati sambil memandangin langit-langit kamarku.
            Walau setiap orang berkata aku harus melupakannya, tapi aku tahu jalan terbaik. Aku  memang tidak akan melupakan oppa. Tapi aku tahu, bukan rasa cinta yang aku rasakan pada oppa, tapi rasa kasih sayang.
            Deringan HP di atas meja belajar, memecahkan lamunanku. Melantunkan lagu OK yang dihiasi oleh suara Boyband B1A4 yang disarankan oppa sebelum ia pergi. Bertuliskan NEW EMAIL. Dengan spontan aku membuka. Aku hanya diam, sambil membaca tiap kalimat yang dikatakan.

To        : chi_b1opun@yahoo.com

From   : rei_a4pigu@yahoo.com

Tittle   : Bacalah... kumohon

Text    : Chi... maaf jika memang kehadiran ku membuat mu sakit. Aku yakin, tak ada yang bisa menyembuhkan lukamu saat ini selain dia.... kau terlalu berharga untuk tersakiti. Aku yakin, dia tak ingin kau tersakiti, tapi yakinlah padaku, aku berbeda dengan dia. Jangan menjauhiku, aku tak berniat menggantikannya. Tapi datanglah... ke taman pukul 20.00. Aku akan tetap menunggumu.

Setelah membacanya, aku hanya meletakkan kembali handphoneku. Aku tak ingin melihatnya. Aku akan terus terbayang wajah oppa saat melihatnya.Melihat hujan yang semakin deras, jam kini telah menunjukkan pukul 20.00. Tak terpikir olehku untuk pergi menemuinya.
            10 menit.... 30 menit... hingga pukul 22.30. Aku melihat keluar jendela. Menatap lurus ke arah taman kota yang tak jauh dari rumah. Tanpa sadar aku berlari menuruni tangga, mengambil sebuah payung dan berlari menembus hujan. Di belakangku, terdengar eouma yang berteriak memanggil namaku. Pikiranku saat ini hanya padanya.
“Apakah ia masih di sana?” tanyaku dalam hati

*Rei P.O.V

 “Sesakit itukah?” tanyaku  yang masih duduk membeku tanpa payung dan hanya sebuah jaket tipis yang menyelimutiku.
            Dari kejauhan tampak mobil mewahku serta pelayan yang berada di dalamnya masih menunggu. Siap kapan saja membawaku ke rumah sakit kalau-kalau aku akan pingsan. Dan seorang lagi siap dengan payungnya yang akan merangkulku ke dalam payung yang di pegangnya. Sudah hampir 3 jam aku duduk di sini tanpa ada tanda seorang pun akan menghampiriku. Dari arah belakang terdengar percikan air di jalan. Sepertinya ada orang yang datang menghampiriku. Aku melihatnya.
“Jaga dia melebihi apa yang aku lakukan untuknya.” Kata key padaku.
“Key…” saat ia tepat berada di depanku.
            Setelah mengatakan itu, key berbalik meninggalkanku. Sekilas aku melihat senyum pilu dari namja itu. Mataku terhenti melihat seorang yeoja berlari dengan payung yang siap di lemparnya kapan saja. Merangkulku yang kedinginan dalam pelukannya sambil terisak tangis.
“Kau datang....” kataku yang hampir tak bertenaga.
“Kenapa kau menungguku?” kata Chi padaku.
“Karena aku percaya kau akan datang” kataku sambil memandangi kedua bola mata yang merah karena menangis.
            Pelayanku berlari menghampiri kami berdua. Membawa 2 buah handuk untukku dan Chi. Menuntun kami masuk kedalam mobil.

*Key P.O.V
“Chi... tanpa kau sadari sakitmu telah hilang dengan kehadirannya yang dulu benar-benar tak kau inginkan” kataku sambil melihat Chi merangkul Rei.
            Rasanya sakit, melebihi ditusuk melihat mereka. Tapi seperti banyak orang berkata, ‘Bahagia melihatnya bahagia itulah cinta’. Aku membuktikan kata-kata itu, walau sakit entah kenapa wajahku terhias senyuman, walau air mata tanpa disadari telah jatuh. Serasa tak ingin tersakiti lebih dari ini, aku masuk ke mobil dan pulang ke rumah.
“Ia akan bahagia bersama Rei, Key…” kataku meyakinkan diri.

**Esok Harinya

“Bisa kukatakan sesuatu pada kalian?” tanyaku yang kini telah merangkul Namja dan Yeoja sahabatku itu.
“Ikut aku” lanjutku tersenyum sambil berjalan keluar kelas.
            Namja dan Yeoja itu tanpa sepatah katapun mengikutiku dari belakang. Kami berhenti di atap sekolah tepat dimana Chi dan aku bertukar cerita.
“Aku akan pergi” kataku setelah membalikkan badan untuk melihat wajah namja dan yeoja sahabatku itu.
“Apa yang kau katakan” balas Rei.
“yahh... seperti yang kalian dengar tadi! Aku akan pergi, ke New York.” Kataku singkat sambil tersenyum.
“Tapi kenapa?” tanya Chi yang saat itu telah memegangi tanganku.
“Karena aku tak perlu melindungimu lagi saengi...” kataku sambil mengusap kepala Chi.
“Alasanmu tidak masuk akal” kata Chi marah.
“Bagimu tidak, bagiku iya.... aku menolak permintaan ayahku agar aku bersekolah di New York karnamu Chi... saat bertemu denganmu, saat itu aku tahu aku harus melindungimu sampai kau dapat mengobati rasa sakit itu” kataku menatap Chi
“Lalu, setelah itu kau berniat meninggalkanku? Kau jahat Key!” teriak Chi yang langsung meninggalkanku dan Rei itu.
“Chi?” panggil Rei, aku langsung meniarik tangan Rei.
“Biar saja dia” kataku sambil menggelengkan kepalaku, menandakan aku tak setuju Rei mengejar Chi
“Tapi....” perkataan Rei terhenti ketika melihat sebuah tetesan air mata telah mengalir di pipiku. Aku masih tetap tersenyum, agar aku bisa meyakinkan Rei bahwa aku tak apa-apa.Rei merangkulku, aku hanya diam membalas pelukan dari sahabat baruku ini.

*Chi P.O.V
#Di kelas

“Apa yang akan dilakukannya? Kenapa dia seperti ini? Dia berubah? Apa karena kami telah bertemu Rei?” pertanyaan itu terus menghantuiku setelah pergi meninggalkan ke dua namja itu.
            Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan agar Key tidak pergi. Aku tahu persis, walau apapun yang ku lakukan untuk Key agar ia tidak menjalankan niatnya, pasti hasilnya sia-sia. Karena apabila Key telah membulatkan keputusannya, maka tak seorangpun bisa mencegahnya kecuali takdir.
            Bel pulang berbunyi, aku hanya diam sambil berjalan sendiri keluar dari kelas. Tanpa melihat Key dan Rei yang masih berada di dalam kelas. Rasanya berat bagiku untuk ditinggalkan oleh Key. Menunggu sebentar kereta yang akan membawaku pulang. Rasanya aku tak berkedip, lamunanku menembus tembok stasiun yang penuh orang ramai. Hingga kereta datang dan siap membawaku pulang.

*Key P.O.V
#Di Bandara
“Key…” kata Rei menepuk punggungku yang sudah berdiri di samping koper. Aku hanya tersenyum dan menuntun Rei menuju sebuah tempat sepi untukku dan Rei bisa berbicara.

“Dengar Rei… Aku mungkin tidak tahu kapan akan kembali, tapi jika kau menyakitinya mungkin tanpa kau sadari aku sudah di belakangmu” kataku serius menatap mata Rei.
“Baiklah Key… Tapi… Chi…” kata Rei terputus oleh bunyi langkah Chi yang semakin mendekat ke arah kami.
“Key…” panggil Chi padaku. Ku lihat Chi menangis. Aku memeluknya agar isak tangisnya mereda.
“Chi, tenanglah” kataku sambil memeluk Chi yang masih menangis.
“Berjanjilah kau akan kembali” katanya dalam sela-sela tangisannya. Aku hanya tersenyum sambil memberi tatapan tak berarti pada Chi.
“Sudah waktunya…” kataku melihat jam tangan yang diberikan oleh Chi saat natal.
“Selamat tinggal” Kataku pada kedua sahabatku.
            Akhirnya aku pergi dengan memberi Chi tatapan yang tak dimengerti olehnya, senyuman terakhir yang aku lihat dari Chi.
“Sangat cantik” pikirku dalam hati. Chi… aku harap kau akan menungguku pulang. Bahagialah bersama Rei.