FEEL THE RAIN
[Chapter 2] Without You
Author : VhiN
Main Cast : Chi, Key, Rei
Other Cast : Jung Kyu as Oppa, Hae Ryn
Rate : PG 13
Genre
: Friendship, Life
Length : Series Fic
*Author P.O.V
“Hari demi hari, bulan demi
bulan…. Dan sekarang tepat 1 tahun oppa pergi….” Chi memandang langit yang
cerah.
“Chi… kau mau minum apa? Biar aku
ambilkan untuk mu” kata Rei yang telah bangkit dari kursi di kantin. Lalu
melihat Chi yang tak menjawab, ia duduk kembali. Chi tetap saja terus menatap
langit. Rei memandang Chi, hingga Chi tersadar dari lamunannya.
“Eh?? Rei?? Kau bilang apa tadi”
kata Chi.
“Ada apa?” Tanya Rei sambil
menatap mata Chi
“Ah…. Rei, sebenarnya….”
“Ah! Chi, sudah jam segini, aku
harus pulang. Lagian, kantin juga sudah sepi… Maaf, aku duluan” kata Rei sambil
melihat ke jam tangannya dan bangkit dari kursi lalu meninggalkan Chi sendiri.
Tepat
seperti yang dikatakan Chi, 1 tahun telah berlalu. 1 tahun kepergiannya, banyak
yang terjadi pada diri Chi. Ia dapat melakukan berbagai hal kini. Jauh di dalam
lubuk hatinya, mungkin Chi sangat merindukan oppa. Cara yang diyakini oleh Chi
sekarang adalah ia harus melakukan apa yang diinginkannya dan berusaha bukan
hanya atas nama dirinya, tapi atas nama oppa. Chi yakin, oppa disana selalu
mendukung Chi, ia pasti akan selalu bersamanya. Ujian yang dulu telah di
jalankan oleh oppa sebelum ia pergi, kini Chi rasakan. Teringat dulu bagaimana
Chi memberikan semangat pada oppa, tersenyum pilu saat ingat kenangan itu dulu.
Chi yakin oppa di sana juga memberikan semangat serta doa untuk Chi.
*Chi P.O.V
1 tahun hidup
tanpa oppa, aku bertemu Rei yang mirip dengan oppa. Aku tahu Rei bukan oppa,
hari ini pun ia tak dapat berada disampingku. Padahal, saat ini… hari ini hari
terberat bagiku. Mengingat kembali sosok yang telah pergi 1 tahun lalu. Aku
meraih tasku dan berlari keluar kantin hingga melewati lapangan sekolah yang
luas, ditemani kesunyian dan sinar matahari, aku duduk sebentar di sebuah kursi
di taman sekolah. Memandang lurus, mencoba tetap tegar dalam kesendirian.
Di stasiun
kereta aku kembali duduk di sebuah bangku, tempat dimana 1 tahun lalu aku
menangis sendiri. Dan tempat yang mempertemukanku dengan Key.
“Key… Rei tak sepertimu! Berbeda
denganmu… kau selalu ada saat ku butuhkan bukan? Di mana kamu Key… di mana??”
Kataku yang kini telah terbenam dalam tangisan.
“Key… bukan Rei! Tapi kau… aku
membutuhkan mu!” kataku kembali
Semua orang tak
memperdulikan ku, seakan tak ada kejadian apapun. Orang-orang tetap seperti 1
tahun yang lalu. Tak ada yang peduli padaku, hanya Key yang melihatku. Tapi,
itu 1 tahun yang lalu! Key sekarang tidak di sini! Ia bahkan tidak tahu kalau
aku sedang duduk sendiri menangis seperti dulu.
*Author P.O.V
Orang-orang
tetap datang dan pergi dari stasiun itu. Tapi, sepasang mata tak lepas
memandang yeoja yang duduk sambil menangis itu. Tubuhnya ingin sekali memeluk
yeoja itu dan membenamkan isak tangis yeoja itu pada bahunya. Key datang…
melihat Chi dari kejauhan. Ingin rasanya Key berlari mendekati Chi. Tapi, ia
tak dapat lakukan.
“Chi… kenapa kau serapuh ini? Apa
senyumanmu saat kita bersama hanya untuk menutupi kerapuhanmu? Di mana Rei?
Bukankah saat ini Rei lebih berarti dari pada aku? Kenapa kau menyebut namaku?”
Tanya Key dalam hati.
Chi
tetap menangis, menguatkan dirinya. Hingga ia cukup kuat untuk berdiri dan
berlari memasuki kereta, kereta terakhir untuk hari ini. Key hanya terpaku
melihat sosok Chi yang sekarang. Dulu, saat Chi menangis, Key akan diam sambil
menuntunnya memasuki kereta. Tapi, kali ini ia tak dapat lakukan itu. Tanpa
sadar, tetes air mata telah keluar dari mata Key. Mata yang sangat di kagumi
Chi. Air mata Key memecahkan lamunannya. Kereta sudah pergi 5 menit yang lalu.
Dan sang pelayan telah member isyarat agar mereka kembali ke penginapan mereka.
“Chi? Pulang terlambat?” tanya
eouma Chi
“Aku capek eouma… maaf, kita
bicara nanti saja” Kata Chi langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
*Chi P.O.V
Sekarang, aku memiliki teman chat.
Namanya Hae Ryn. Memang, sudah 1 tahun kami menjadi teman dan saling berbagi
info. Walau terbatas oleh waktu dan tempat, tapi kami menjadi akrab dalam 1
tahun ini. Ryn, nama yang biasa ku panggil, ia juga tahu bahwa oppa dulunya
adalah admin sekaligus teman berbagiku di grup kami sekarang. Hari ini aku
mencoba menghidupkan laptop dan memulai chat bersama Ryn.
Chat
With
: chi_b1opun@yahoo.com
Ryn421st@yahoo.com
chi_b1opun@yahoo.com : Ryn…
Ryn421st@yahoo.com : Hai Chi… Ada apa?
chi_b1opun@yahoo.com : Sebenarnya.. hari ini sudah 1 tahun oppa pergi
Ryn421st@yahoo.com : Oppa?? Siapa ya?
chi_b1opun@yahoo.com : Oppa! Dulu dia pernah jadi admin di grup kita itu.
Ryn421st@yahoo.com : Wah… ga tau tuh aku
chi_b1opun@yahoo.com : Padahal dulu kamu yang nenangin aku waktu dia udah ga ada!
Ryn421st@yahoo.com : Sorry… aku ga inget
“Kenapa Ryn tak ingat pada oppa?
Kenapa semua orang yang aku butuhkan tidak disini?” Tanyaku dalam hati.
*Key P.O.V
#Di Penginapan
“Tuan muda, saya harap anda dapat
beristirahat dengan tenang disini. Sudah banyak kejadian yang terjadi hari ini,
anda pasti lelah” kata pelayanku.
Aku
hanya mengangguk pelan mengikuti permintaan pelayanku. Aku berjalan pelan
menuju tempat tidur. Pikiranku kini hanya terpaku pada yeoja yang tadi kulihat
di stasiun. Aku duduk sebentar untuk berpikir.
“ Dimana Rei? Bukan kah ia sudah
berjanji akan terus bersama Chi? Hari ini tepat 1 tahun Chi dan aku bertemu,
dan itu berarti hari ini tepat setahun juga…”
Aku
langsung berdiri, ingat bahwa hari ini tepat 1 tahun kematian oppa Chi. Aku
berlari menuju pintu hotel, menaiki lift, dan bergegas mencari taxi.
“Ajhushii, tolong cepat sedikit!”
kataku pada supir taxi
Sore
itu hujan kembali turun membasahi tanah.
Semua orang kini telah membuka payung mereka. Membiarkan mereka
tenggelam dalam dinginnya hujan. Aku keluar dari Taxi secepat mungkin. Membiarkan bajuku basah. Lalu, mengetuk pintu
rumah Chi.
“Tok.. tok..”
“Nuguseyo?” terdengar suara ajhuma,
eouma tercinta Chi yang membuka pintu.
“Annyeong ajhuma…” kataku sambil
membungkuk memberi hormat.
“Key! Bukankah kau pindah? Apa
yang terjadi? Ayo masuk! Bajumu basah, nanti kamu flu” kata ajhuma.
“Ajhuma, apa Chi ada?” Tanyaku
tak menghiraukan perkataan ajhuma.
“Ah… Chi tadi pergi sebentar.
Katanya mau ke supermarket” jawab ajhuma padaku.
“Gumawo ajhuma… aku menyusulnya
saja!” kataku membungkuk dan berlari menerobos hujan.
Aku
berlari ke ujung jalan. Melewati beberapa pepohonan di taman. Langkahku
terhenti melihat seorang yeoja duduk sendiri dengan payung ditangannya. Ia
menunduk sambil melihat tetesan air hujan yang jatuh ke tanah.
“Hei! Yeoja pabo! Kalau mau
hujan-hujanan jangan bawa payung” kataku mendekati Chi
“ jangan perdulikan aku… urus
saja urusanmu sendiri” kata Chi yang masih menunduk. Sepertinya ia tidak
memperdulikan siapa yang berdiri di hadapannya ini.
“Begitu ya?” kataku sambil menunduk
untuk melihat wajah Chi. Sepertinya Chi tekejut melihat ku.
“Key!” teriak Chi yang terkejut. Ia hampir saja
menjatuhkan payung ditangannya. Dengan sigap aku memegang payung yang masih di
tangannya, agar payung itu dapat melindungiku dari hujan.
Aku hanya
tersenyum meliat yeoja di hadapanku ini. Dalam hati, aku bersyukur tidak melihat air mata Chi keluar. Aku tahu, Chi sudah berubah. Chi sudah mulai tegar
menghadapi kenyataan ini.
“Kenapa kau disini!” Tanya Chi
“Tidak boleh? Kalau begitu aku
pulang” kataku bergurau. Chi langsung memelukku , aku terdiam kaku saat Chi
memelukku.
“Bogoshipoyo Key…” Kata Chi
pelan. Aku tersenyum di balik punggung Chi.
#Di rumah Chi
“Ganti bajumu” kata Chi sambil
memberikan pakaian padaku.
“Gumawo” kataku sambil tersenyum.
Chi
keluar dari kamar, memberikan waktu untukku
ganti baju. Ajhuma sudah membuatkan makanan untuk kami. Aku mendengar
suara ajhuma dari atas.
“Chi… panggil Key untuk ikut
makan bersama” kata ajhuma.
“Ne eouma…” kata Chi dan ku
dengar bunyi langkah menaiki tangga menuju kamar.
“tok.. tok…” Chi mengetuk pintu
kamar.
“Key! Di suruh eouma makan!” kata
Chi
Aku keluar
dari kamar Chi. Chi melihat kearahku. Dia sedikit terkejut melihatku. Aku
bingung melihat tatapannya itu. Sambil tersenyum aku berkata.
“Hei! Yeoja! Kenapa kau melihatku
seperti itu? Baru sadar kalau aku itu tampan ya?” Gurauku.
“Kau ini apa-apaan sih!” kata Chi
yang langsung berbalik menuruni tangga.
“Heh… jangan mengelak! Ayo ngaku!
Aku tak akan memberi tahu Rei kalo kau memujiku! Haha” candaku
Malam
itu aku menginap di rumah Chi, karena permintaan mama Chi yang membuatku tidak
bisa menolaknya. Pukul 23.00, sepertinya Chi belum bisa tidur. Ia mengetuk
pintu kamarku. Aku tahu itu Chi, aku membuka pintu, dan melihat Chi.
“Key! Boleh aku masuk? Main game
yuk…” Kata Chi
“Boleh…” kataku tersenyum
Semalam
suntuk kami bermain game. Untungnya besok sudah mulai libur panjang. Kami
bermain hingga pukul 02.00. Akhirnya setelah selesai bermain, Chi mulai
bertanya padaku.
“Key… kenapa kau ada di sini? Apa
kau benar-benar pulang?” Tanya Chi.
“Aku ke sini karena di sana sudah
libur duluan…” kataku.
“Terus kenapa kau menyusulku ke
taman? Hujan-hujanan lagi!” Tanya Chi kembali.
“Ah… itu karena aku lagi tidak
ada kerjaan saja..” kataku berbohong. Tak mungkin aku katakan yang sebenarnya
pada Chi, bahwa aku mengkhawatirkannya.
“Tapi kata eouma, kau mencariku
di rumah… Dan saat eouma bilang aku sedang pergi, kau menyusulku” kata Chi
heran.
“Kau ini… sudah ku bilangkan! Aku
tidak ada kerjaan makanya aku ke rumahmu. Saat ajhuma bilang kau pergi, aku
menyusulmu” kataku.
“Ya sudah!” kata Chi langsung
keluar dari kamar. Aku hanya tersenyum melihat yeoja itu keluar melewati pintu
kamar.
*Chi P.O.V
**Pagi Harinya
“Key, ini bajumu sudah kering”
kata eouma sambil memberikan pakaian Key yang sudah rapi.
“Gumawo ajhuma..” kata Key
tersenyum.
“Aku mandi duluan ya!” lanjut Key
padaku.
Eouma
hanya tersenyum melihat kami berdua. Aku pikir, kami sudah seperti kakak
beradik, bahkan hubungan kami lebih akrab dari kakak beradik. Eouma
mengeluarkan 2 buah tiket taman hiburan dan memberikannya padaku.
“Untukmu dan Key” kata eouma.
“Eouma…” aku menatap eouma, lalu
tersenyum. Eouma tahu, hari ini hari special untuk kami berdua.
“Nih.. gentian” kata Key
memberikan handuk padaku.
“Key! Kita ke taman hiburan
yuk!!” kataku merangkul tangan Key.
“Boleh” kata Key tersenyum.
“Mandi dulu sana!” sambung Key
sambil mengacak rambutku. Ia tersenyum.
’10.00’
angka yang terdapat pada jam tanganku, hadiah pemberian eouma. Kami sudah
berada di taman bermain. Aku membawa kamera kesayanganku. Kami benar-benar
bersenang-senang di sana. Hari ini adalah hari special. Tanggal 24 Mei adalah
tanggal yang sangat menyenangkan. Cuaca pun ikut tersenyum mengikuti kami
berdua. Tanpa mendung, tanpa hujan. Aku melarikan diri dari Key, aku mencari
penjual balon. Dan aku menemukannya.
“Ajhushi… aku beli yang ini!”
kataku menunjuk sebuah balon berwarna kuning.
“Oh… ini dia, nona” kata penjual
balon padaku sambil memberikan balon itu. Aku membayarnya.
“Gumawo ajhushi…” kataku
tersenyum.
Balon
itu akan aku berikan pada Key. Aku juga sudah membuat sebuah cup cake untuk
Key. Key tak tahu, kalau malam itu aku sudah membuatkan cup cake untuknya
sebelum aku dan dia bermain game. Karena hari ini adalah hari ulang tahunku dan
Key.
*Key P.O.V
#Di tempat aku sekarang berdiri
(Saat Chi sedang membeli balon untukku)
“Kemana Chi tadi?” kataku yang
sekarang berdiri ditengah-tengah taman bermain.
“Tadi katanya ke toilet, lama
banget” kataku kembali yang mulai kesal menunggu Chi.
Aku
melihat sekeliling untuk mencari sosok yeoja yang ku cari. Beberapa yeoja yang
kelihatan hanya berbeda 1-2 tahun denganku, menghampiriku.
“Annyeong…” kata yeoja-yeoja itu.
“Annyeong…” jawabku acuh.
“Oppa, namamu siapa? Boleh
kenalan?” Kata salah satu yeoja
“Namaku Key” kataku sambil melihat sekeliling, lalu aku
menemukan orang yang kucari. Yeoja itu berdiri tak jauh dariku, ia memegang
sebuah balon berwarna kuning.
Chi mendekatiku tanpa
memperdulikan yeoja-yeoja yang mengajakku berbicara. Ia mengeluarkan kameranya,
dan…
“Click..” Chi memotretku. Aku tak
memperdulikannya, dan berkata.
“Hei! Kau kemana saja? Aku
mencari mu!” kataku pada Chi
“Aku beli ini untukmu!” Kata Chi
memberikan balon itu padaku
“Hahaha apa-apaan ini??” Tanyaku sambil
tertawa.
“Saengil Chukae Hamnida Key…”
kata Chi memelukku, aku tersenyum.
“Saengil Chukae Hamnida Chi…”
balasku kembali. Rambut Chi sudah benar-benar panjang dari kami pertamakali
bertemu.
Kami
saling memandang, lalu tertawa. Aneh rasanya kami mengucapkan kata yang sama
pada saat itu juga. Yeoja-yeoja yang tadi menegurku mulai menjauh dari kami
berdua. Dari kejauhan aku dengar mereka berkata kesal.
“Ternyata sudah punya
Yeojachingu…” kata mereka
Yeojachinguku?
Bukan… Chi bukan yeojachinguku, kami
hanya bersahabat. Chi dan aku berjalan menuju sebuah cafe di antara toko-toko
mainan di taman bermain. Kami memesan makanan, Chi mengeluarkan cup cake
buatanya dan memberikannya padaku. Di saat yang bersamaan, aku juga
mengeluarkan sebuah cup cake untuk Chi. Heran melihat kedua cup cake itu, dan
kami kembali tertawa melihat apa yang kami berikan satu sama lain.
“Cup cake buatanmu?” Tanyaku. Chi
mengangguk pelan.
Aku mengeluarkan
kamera dan memotret cup cake itu. Cup cake yang sederhana, tapi entah kenapa di
mataku begitu indah. Chi juga mengambil kameranya, dan memotret cup cake
pemberianku.
*Chi P.O.V
Aku benar-benar
senang merayakan ulang tahunku bersama Key. Ini adalah yang ke dua kalinya kami
merayakan ulang tahun bersama. Aku sangat bersyukur Key ada di sampingku. Key
juga memberiku sebuah cup cake. Cup cake itu sangat lucu! Ada lilin di atasnya,
aku memotret cup cake itu.
Aku terus
memandangi Key yang telah menghabiskan makanannya.
“Kenapa kau melihatku seperti
itu!” kata Key sambil mendekatkan wajahnya padaku.
“Ah!!” Aku terkejut melihat muka
Key yang begitu dekat dengan mukaku. Key hanya tersenyum.
“Kapan kau mewarnai rambutmu!?”
Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Rambutku? Hahaha kau baru sadar!
Tadi saat aku ke toilet, aku di tarik seorang namja ke sebuah pemotretan! Ia
bilang, aku cocok jika mewarnai rambutku” kata Key menjelaskan.
“Pantesan, lama banget ke toilet.
Lalu ia mengecat rambutmu? Untuk apa?” Tanyaku heran.
“Aku jadi modelnya… haha ia
bilang, ia kan posting ke twitternya. Yah.. gak apalah! Mumpung lagi libur,
tidak masalah aku mewarnai rambutku. Kau suka kan?” kata Key menggurauiku.
“Biasa saja” kataku memalingkan
wajah. Key tersenyum.
“Lihat fotoku yang kau ambil
tadi!” kata Key menarik kameraku. Ia melihat fotonya, dan kembali tersenyum.
Matahari sudah
mulai terbenam. Key dan aku berjalan menuju halte bus. Hari ini benar-benar
menyenangkan.
“Nih!” kata Key memberikan sebuah
kotak kecil padaku.
“Apa ini?” kataku.
“Buka saja!” kata Key yang
menatap keluar jendela bus. Aku membuka kotak itu, sebuah gantungan handphone
berbentuk lumba-lumba. Aku tersenyum. Aku benar-benar menyukai lumba-lumba, dan
hanya Key seorang yang tahu.
“Sebagai balasannya!” kataku
melemparkan sebuah bola transparan.
“Apaan nih?” Tanya Key
“Kalau kau lagi sedih atau
merindukanku, kalau lihat bola itu kau pasti tersenyum” kataku
“Haha… tentu saja aku akan ingat
padamu, habis… bola ini mirip dengan mukamu! Sama-sama bulat! Haha” gurau Key
“Ih!! Ya udah! Sini, ga jadi!”
kataku mencoba mengambil bola itu.
“Eits!” Key menjauhkan bola itu
dariku.
Kami
sudah sampai di pemberhentian bus. Hanya beberapa kilometer lagi kami sampai di rumah. Kami berjalan
beriringan. Hingga Rei berdiri di pagar rumahku.
*Rei P.O.V
Aku menunggu Chi di luar
rumahnya. Eouma Chi sudah menyuruhku masuk ke rumahnya, tapi aku menolak. Aku
ingin menyambutnya saat ia pulang. Hari ini hari ulang tahun Chi, aku ingin
memberikannya hadiah di dalam jaketku ini. Chi pernah bilang ia ingin sebuah
kotak musik. Kotak musik ini sangat kecil, karena ia bilang kalau kotak musik itu
kecil, ia bisa membawanya ke manapun. Aku menemukan sosok yeoja yang sangat ku
cintai berjalan beriringan dengan seorang namja. Namja yang ku kenal,
sahabatku, Key.
“ Key…” kataku terkejut melihat
namja itu ada di sini.
“Hei..” balas Key
“Kapan kau tiba!” kataku sambil
memeluk Key. Key balas memelukku, walau kelihatannya ia tak senang dengan
kehadiranku.
“Rei, aku ingin bicara padamu. Chi…
kau pulang saja dulu!” kata Key pada Chi. Ku lihat Chi mengangguk pelan, dan
berjalan menuju rumahnya.
Key
dan aku berjalan menuju taman kota, kami berjalan dalam diam. Apa yang terjadi
pada Key. Ku lihat Key berhenti tepat di tengah-tengah taman. Ia berbalik, dan…
“Buk!” sebuah pukulan sudah
mendarat di mukaku.
“Ada apa!?” Kataku yang masih
terkejut.
“Sudahku katakan… jangan sakiti
Chi. Kau sudah membuatnya menangis!” kata Key sinis.
“Kapan aku membuatnya menangis?”
Tanyaku heran.
“Cihh… kau masih mengelak! Aku
melihatnya menangis sendiri di stasiun kemarin! Kau di mana saat itu?” kata Key
Aku
hanya diam, aku tak mengerti kenapa Chi menangis? Apa waktu aku pulang lebih
awal dari Chi kemarin? Key meninggalkanku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi?
Sepertinya akulah yang salah telah meninggalkan Chi waktu itu. Sebenarnya aku
tak ingin meninggalkannya sendiri, tapi saat itu keinginanku membelikannya
hadiah begitu besar, sehingga aku meninggalkannya sendiri.
*Key P.O.V
“Key? Mana Rei?” Tanya Chi saat
ia membukakan pintu untukku.
“Ah… katanya ia lupa ada
keperluan. Jadi pulang duluan” kataku berbohong.
“Oh…” balas Chi yang terlihat
sedikit kesal.
“Ajhuma, Chi… aku akan pulang ke
New York besok pagi…” Kataku saat kami sedang makan malam.
“Kenapa cepat sekali!?” Kata Chi.
“Ia… jangan terlalu terburu-buru
Key… kau baru 3 hari di sini” kata ajhuma.
“Maafkan aku ajhuma… ada sesuatu
yang aku harus selesaikan di sana” kataku menjelaskan.
“Aku duluan” kata Chi berdiri
meninggalkanku dan ajhuma.
“Key… beri penjelasan pada Chi
ya?” kata ajhuma menyarankan padaku.
“Baik ajhuma… gumawoyo… makanan malam
ini sangat enak!” kataku.
“Key… saengil chukae hamnida”
kata ajhuma. Aku senang, ternyata ajhuma mengingat ulang tahunku.
“Gumawoyo ajhuma…” kataku
tersenyum lalu menaiki tangga.
Aku
menaiki tangga, mencoba mencari alasan agar Chi bisa membiarkanku kembali ke New
York. Aku mengetuk pintu kamar Chi. Tapi Chi tetap tidak membukakannya. Aku
tersenyum, dan berkata.
“Chi… aku masuk ya!” kataku.
Aku
masuk, dan melihat Chi sedang berbaring di ranjangnya menghadap ke dinding. Aku
tahu Chi tak ingin melihatku. Aku duduk di samping Chi.
“Hei! Kalau kau tidur seperti
itu, kau bisa kena tindihan!” kataku bergurau. Chi langsung duduk menghadapku.
Chi sangat takut dengan yang namanya hantu.
“Kenapa kau mau kembali ke sana…”
kata Chi yang matanya berkaca-kaca melihatku.
“Tadi aku sudah katakan… aku ada urusan di sana… Ulang tahun appa ku.
Sudah lama aku tak merayakannya bersama appa…” kataku tersenyum.
“Appamu ulang tahun? Kapan?”
Tanya Chi
“3 hari lagi” Aku masih tersenyum
melihat yeoja yang di depanku.
“Baiklah…” kata Chi menunduk. Aku
mengelus pelan kepalanya, lalu beranjak dari tempat tidur Chi dan duduk di
kursi dekat meja belajar Chi.
Aku melihat
benda yang tidak asing. Rubikku, Chi selalu bilang akan menyelesaikan rubik
itu. Ku lihat, rubik itu tidak tersusun sesuai warna. Sepertinya ia belum
menelesaikannya.
“Hei! Apa ini!?” Tanyaku pada Chi
“Eh?” Chi terkejut
“haha masih kau simpan ya?”
kataku mengambil rubik pemberianku itu.
“Sini!” Chi menarik rubik itu
dariku. Dan berbalik kea rah dinding.
“Hahaha…” aku tertawa
*Chi P.O.V
Aku
melihat dari balik punggungku, Key tertawa. Sangat tampan, rambut yang di
catnya tadi begitu pirang saat terkena cahaya lampu.
Aku menggelengkan kepala untuk
memutuskan lamunanku.“Apa yang aku pikirkan!” kataku dalam hati. Key bingung
melihatku, lalu ia keluar dari kamarku dan menutup pintu kamar.
**Esok harinya
“Ajhuma… gumawoyo ajhuma
memperbolehkanku menginap di sini” kata key yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Key… kamu sudah ajhuma anggap
anak ajhuma… jadi jangan sungkan. Kembalilah lagi ke sini” kata eouma.
“Gumawoyo ajhuma” Key menunduk
memberi salam.
“Eouma… aku akan mengantar Key”
kataku.
“Ne…” kata eouma tersenyum.
#Di bandara
“Di mana Rei?” Tanyaku yang mulai
kesal. Padahal, tadi malam aku sudah memberi tahu Rei kalau Key akan pulang
hari ini.
“Biarkan saja, Chi… jaga dirimu
ya! Kalau kau menangis, panggil aku ya?” kata Key tersenyum.
“Memangnya kau akan dengar?”
Tanyaku bergurau.
“Tentu saja! Aku kan superman!
Haha” gurau Key. Kami tertawa bersama.
“Hati-hati ya Key! Berjanji kau
akan pulang” kataku yang mengacungkan jari kelingkingku menjadi huruf C.
“Yakssok!” kata Key ikut melingkarkan
jari kelingkingnya padaku.
“Aku pergi dulu ya..” katanya
memelukku.
Key
pergi bersama 2 orang pelayannya. Ia sempat melambaikan tangannya padaku.
Setelah pesawat Key lepas landas, tiba-tiba Rei muncul di hadapanku.
“Kau kemana saja! Key sudah pergi
tuh…” kataku kesal.
“Chi…” Rei memanggil namaku.
“Mwo?” Tanyaku singkat.
“Kita akhiri saja hubungan kita…”
kata Rei padaku.
“Apa yang kau katakana Rei!?”
Tanyaku terkejut.
“Aku tak bisa bersamamu… ada
orang yang ku sukai” kata Rei. Aku benar-benar tak percaya. Rei melakukan itu
padaku.
“Kau jahat Rei!” Kataku menangis
meninggalkan Rei.
“Apa yang di katakana Rei? Kenapa secepat ini”
kataku dalam hati yang masih berlari pulang ke rumah sambil menangis.
*Rei P.O.V
“Aku memang jahat Chi… Aku sudah
membuatmu menangis… Bahkan kau sekarang menangis karnaku” kataku yang berdiri
melihat ke bawah.
2 minggu berlalu
sejak kejadian itu. Kini Chi dan aku sudah masuk sekolah kembali. Walau
bertatap muka, kami hanya saling diam. Sepertinya Chi tak ingin melihatku. Aku
duduk di ujung kelas, dekat sekali dengan jendela.
Saat pelajaran bebas, aku meletakkan kepalaku di meja. Arah pandanganku hanya pada satu, yeoja di ujung kelas yang begitu dekat dengan pintu. Aku memperhatikan Chi yang hanya diam.













