Search This Blog

Thursday, December 6, 2012

[FF : Series] Feel The Rain : [Chapter 1] Meet You Again

FEEL THE RAIN

[Chapter 1] Meet You Again
Author : VhiN
Main Cast : Chi (OC), Key (OC), Rei (OC)
Other Cast :  Jung Kyu as Oppa (OC)
Rate : PG 13
Genre : Friendship, Life
Length : Series Fic

*Chi P.O.V
“Heiii Key!! Tunggu!” teriakku pada Key sahabatku yang sedang berlari mengejar waktu.
“Cepat sedikit dasar yeoja!” balas teriak Key sambil berlari.
Aku memang menjalankan hidupku seperti biasa, tapi dalam hatiku, aku tak mungkin melupakan namja itu. Key, namja yang berlari di depanku sekarang ini banyak memberiku kekuatan. Kebanyakan orang akan berpikir aku dan Key adalah pasangan kekasih. Tapi bukan begitu cerita yang sebenarnya.

           Saat Oppa... Namja yang menemaniku telah tiada, Key datang. Saat hujan turun di stasiun kereta api dengan udara yang dingin, aku yang duduk diam sambil mengingat akan namja itu, menangis di sudut stasiun, di sebuah kursi yang jauh dari keramaian, dan saat itulah Key datang membawa sebuah minuman untukku. Walau saat itu tidak saling kenal. Key duduk disampingku yang diam terbenamkan air mata. Key terus berada disampingku, hingga ia menuntunku menuju kereta terakhir sambil tersenyum.
#Di kelas
“Yah.... syukur aku bertemu dengannya.” Sebutku dalam hati sambil memandangi punggung namja di depanku itu.
“Chi? Chi? Heiii yeoja!!” Tegur Key yang telah berbalik memandangiku yang setengah terkejut.
“Apa kau tidak asing dengan wajah itu?” tanya Key sambil menunjuk ke arah belakangnya dengan ibu jari berhias cincin.
Tanpa pikir panjang aku melihat orang yang ditunjuk Key. Aku melihat seseorang berdiri di depan kelas. Semua mata tertuju padanya saat ia memperkenalkan diri. Tingginya, potongan rambutnya, senyumnya, gayanya, dan.... matanya. Mataku tak henti melihatnya. Tak terasa air mata telah membasahi wajahku.
“Key… tak mungkin… itu… itu oppa!” kataku pada Key.
“Hei! Oppamu itu gak mungkin sekolah di sini, dan gak mungkin bakal sekelas dengan kita!” kata Key meyakinkanku.
“Tapi… dia mirip dengan oppa…” aku meyakinkan Key.
“Lihat saja nanti!” balas Key yang langsung memutarkan badanya ke depan.
“Tidak mungkin....” kata itu yang terusku ucapkan, mungkin telah 100 kali kata itu keluar dalam benakku sambil memperhatikan namja itu.
#Dikantin
“Mwo?? Jinja? Dia benar-benar mirip dengan namja itu?!” teriak Key sambil melihat foto oppa di ponselku.
“Entahlah.. aku tak yakin...” kataku.
“hmm... kalau dilihat dari foto ini sih... lumayan mirip! Tinggal satu lagi yang kurang!” kata Key.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sifatnya! Yahhh… Tinggal kamu buktikan dia sama seperti namja itu, atau tidak!” kata Key sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan mukaku.
Aku hanya menghela nafas melihat Key. Dan kami melanjutkan makan siang. Sesekali Key melontarkan lelucon agar aku tersenyum. Aku memang tersenyum sesekali. Hingga teriakan-teriakan  yeoja di kantin memutuskan lelucon Key.
“Rei! Rei! Makan siang bersama kami saja!” teriak sekelompok yeoja di sudut kantin
“Dengan kami saja Rei!” teriak kelompok yeoja lainnya.
            Namja yang diteriaki oleh mereka itu hanya menghela nafas, sambil berjalan menuju mejaku dan Key. Ia berhenti untuk melihat kami berdua, dan berkata.
“Sorry, kalian teman sekelasku kan?” tanyanya pada kami
“Yeah..” balas Key
“Baguslah... aku susah mendapatkan tempat tenang. Mereka selalu teriak-teriak ditelingaku” kata namja itu sambil duduk di sampingku.
“Nama kalian Chi dan Key kan? Mannaseo bagapseumnida” lanjutnya
“yeah...” jawab Key acuh
Aku hanya melihat Key dan Rei sebentar dan melanjutkan makan. Meja kami benar-benar hening, satu sama lain tidak ada yang membuka pembicaraan. Beberapa bisikan sesekali terdengar di telingar di telingaku. Seperti biasa, aku tetap tak perduli apa yang dikatakan mereka.
Bel berbunyi tanda pelajaran selanjutnya akan dimulai. Key langsung berdiri dan aku pun ikut berdiri, meninggalkan namja itu sendirian duduk terpaku sambil memandangi punggung kami berdua.

*Rei P.O.V
“Yah… hujan.. Aku tak bawa payung..” kataku dalam hati
Sore itu hujan membasahi lapangan disekolah. Sesekali para murid menerobos hujan. Menutupi kepala mereka dengan tas. Aku terus melihat mereka. Hingga hanya tinggal aku dan Chi, teman sekelasku yang tak pernahku dengar suaranya. Ingin sekali aku mendengar suaranya, hingga aku memberanikan diri untuk menegurnya.
“Hei...” tegurku pada Chi.
Chi tak mengheraniku, kelihatanya ia berniat berlari menerobos hujan. Tapi dengan satu gerakan sigap aku menarik tangannya, dan berkata.
“Chi, ada apa? Apa ada yang salah denganku?” tanyaku heran. Ia terus diam sambil menatapku.
“Hei jawab aku” Kataku sambil melihat Chi yang terus diam.
            Tiba-tiba Chi mengangis. Suara hujan  membenamkan isak tangis Chi. Aku hanya terdiam melihatnya, tak tau apa yang harus aku lakukan. Hingga akhirnya aku menguatkan diri, dan kembali berkata.
“Chi.. maaf. Aku hanya ingin kau menyebut namaku dan bicara padaku. Panggil namaku, Chi! Hanya kau dan Key yang mengacuhkanku” kataku meyakinkan Chi agar ia berkata.
“Chi??” kata Key terpaku ditengah hujan dengan payung ditangan.
“Sepertinya tadi ia pulang duluan. Apa yang dilakukanya disini?” tanyaku dalam hati ketika melihat Key.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Key padaku yang saat itu masih kaku sambil memegang tangan Chi.
            Dengan sigap, Key menarik Chi dalam pelukannya. Sepertinya Key salah paham padaku. Ia terlihat begitu marah. Belum sempat aku menjelaskan apa yang terjadi, Key telah menuntun Chi masuk ke kelas meninggalkan ku sendiri.

*Author P.O.V

“Minumlah....” kata Key sambil memberi minuman pada Chi
“Gumawo...” gumam Chi
“Tenanglah Chi. Dia bukan namja itu! Dia Rei!!! Kau jangan membayangkan bahwa Rei itu adalah oppamu! Oppamu hanya ada dalam hatimu! Tidak pada diri Rei” kata Key sambil meyakinkan sahabatnya itu.
“Ayo ku antar” lanjut Key sambil mengambil jaketnya yang tadi diletakkannya disebelah Chi.
            Key memasangkan Jaketnya pada Chi. Chi diam tanpa melawan saat Key bilang akan mengantarkannya pulang ke rumah. Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah dan menerobos hujan dengan sebuah payung.

*Rei P.O.V

“Haruskah aku mengikuti mereka?” tanyaku dalam hati saat Key dan Chi mulai berjalan menerobos hujan yang masih deras.
            Berlari dengan tas di atas kepala, aku mencoba agar Chi dan Key tidak menyadari bahwa aku mengikuti mereka. Berjalan dan terus berjalan. Aku tetap mengikuti mereka hingga Chi dan Key memandang sebuah kursi kosong di sudut yang jauh dari keramaian di stasiun kereta api. Lalu ke duanya saling memandang satu sama lain. Dan masuk ke dalam kereta yang sudah berhenti tepat di depan mereka. Aku masuk dari pintu yang berbeda.
“Masuklah....” kata Key sambil tersenyum memandangi Chi.
“Gumawo Key..” balas Chi pelan dan masuk ke rumah.
            Aku terus melihat mereka, aku berdiri di hadapan Key. Menatap hampa ke dalam mata Key yang masih terpaku melihatku. 1,2,3....hingga 30 detik berlalu. Kami masih tetap saling pandang dan tanpa berharap akan di jawab oleh Key, aku berkata.
“Aku tahu ada sesuatu yang membuat kalian tidak ingin berkata apapun padaku. Mungkin memang bukan aku yang membuat kalian seperti ini, tapi apa aku salah berada di hadapan kalian?” tanyaku  pada Key.
“ikut aku, rumahku ada di dekat sini. Akan ku beri tahu semuanya hingga kau menyadari betapa kehadiranmu sangat menyakitkan. Bukan bagiku, tapi bagi Chi seorang.” Kata Key tegas.

*Author P.O.V
#Jalan menuju rumah Key

            Mereka berjalan lurus dari rumah Chi. Tak lama berjalan, di lihat Rei, Key berhenti di depan sebuah rumah. Rumah yang dapat di bilang paling megah diantara semua rumah yang ada disana. Dengan pagar yang tinggi, satpam yang terus berjaga, hingga isi rumah tampak jelas di balik pagar yang tinggi. Rumah yang di desain dengan dindingnya penuh kaca. Key masuk dengan di ikuti Rei. Rei memang sering memasuki rumah semegah ini. Karena Rei sering di ajak oleh orang tuanya untuk diperkenalkan sebagai pewaris perusahaan. Tapi entah kenapa rumah Key berbeda. Rumahnya.... terasa lebih sepi. Walau di setiap sudut para pelayan tetap memberi salam pada sang tuan muda dan temannya. Mereka berhenti di sebuah ruangan. Yang sudah di duga Rei itu adalah ruang tenang untuk tuan muda.
“Duduklah...” kata Key sambil melepaskan jaketnya yang tadi dipakai Chi.

* Key P.O.V
“Duduklah...” kataku pada Rei. Rei mengikuti intruksiku.
“Sorry, bukan maksud untuk menyinggung, tapi mana orang tuamu? Ku lihat hanya pelayan di sana sini.” Tanya Rei dengan sopan.
“Entahlah... aku tak tahu” kataku dengan senyuman.
“To the point! Rei, tanpa kau sadari, kau mirip dengan seseorang yang telah meninggalkan Chi. Ia telah pergi, walau Chi terus mengatakan ia baik-baik saja. Tapi aku tahu dia sakit” kataku sambil menaruh minuman kaleng di atas meja tepat di depan Rei duduk
“Benarkah dia mirip denganku? Tak terpikir olehku bahwa dia akan terluka” kata Rei menyesali keberadaannya.
“Yah.. kau benar. Lihatlah matanya saat ia melihatmu. Sakit itu memang ada, tapi dia tipe yang tidak akan mengungkapkannya walau sesakit apapun” lanjutku.
“Bisakah aku katakan sesuatu padanya?” tanya Rei ragu.
“Entahlah... aku tak tahu” kata itu terucap lagi dari mulutku ini.
“Memang, saat ia melihatku berbeda dari cara orang lain melihatku. Bukan rasa simpati yang saat ini ada disini” kata Rei sambil memegang dadanya.
“Tapi rasa cinta” kataku menyambung perkataan Rei. Aku tahu, Rei menyukai Chi. Dia tak akan duduk di sebalah Chi saat di kantin kalau ia tidak menyukainya. Itu salah satu tipe manusia yang sering ku amati saat bosan.
“Yah...” balas Rei singkat, mengakui bahwa perkataanku benar. Aku hanya tersenyum dan berbalik memandang hujan yang masih deras dibalik kaca rumahku. Hingga Rei pamit pulang, aku masih tidak memperlihatkan wajahku, entah apa yang terjadi padaku saat ini. Rasanya sakit saat mengetahui bahwa Rei menyukai Chi.

*Chi P.O.V
#Di kamarku (saat yang bersamaan dengan pembicaraan Key dan Rei)

“Dia bukan oppa... aku tahu itu. Tapi kenapa aku tak dapat melupakan oppa” tanyaku dalam hati sambil memandangin langit-langit kamarku.
            Walau setiap orang berkata aku harus melupakannya, tapi aku tahu jalan terbaik. Aku  memang tidak akan melupakan oppa. Tapi aku tahu, bukan rasa cinta yang aku rasakan pada oppa, tapi rasa kasih sayang.
            Deringan HP di atas meja belajar, memecahkan lamunanku. Melantunkan lagu OK yang dihiasi oleh suara Boyband B1A4 yang disarankan oppa sebelum ia pergi. Bertuliskan NEW EMAIL. Dengan spontan aku membuka. Aku hanya diam, sambil membaca tiap kalimat yang dikatakan.

To        : chi_b1opun@yahoo.com

From   : rei_a4pigu@yahoo.com

Tittle   : Bacalah... kumohon

Text    : Chi... maaf jika memang kehadiran ku membuat mu sakit. Aku yakin, tak ada yang bisa menyembuhkan lukamu saat ini selain dia.... kau terlalu berharga untuk tersakiti. Aku yakin, dia tak ingin kau tersakiti, tapi yakinlah padaku, aku berbeda dengan dia. Jangan menjauhiku, aku tak berniat menggantikannya. Tapi datanglah... ke taman pukul 20.00. Aku akan tetap menunggumu.

Setelah membacanya, aku hanya meletakkan kembali handphoneku. Aku tak ingin melihatnya. Aku akan terus terbayang wajah oppa saat melihatnya.Melihat hujan yang semakin deras, jam kini telah menunjukkan pukul 20.00. Tak terpikir olehku untuk pergi menemuinya.
            10 menit.... 30 menit... hingga pukul 22.30. Aku melihat keluar jendela. Menatap lurus ke arah taman kota yang tak jauh dari rumah. Tanpa sadar aku berlari menuruni tangga, mengambil sebuah payung dan berlari menembus hujan. Di belakangku, terdengar eouma yang berteriak memanggil namaku. Pikiranku saat ini hanya padanya.
“Apakah ia masih di sana?” tanyaku dalam hati

*Rei P.O.V

 “Sesakit itukah?” tanyaku  yang masih duduk membeku tanpa payung dan hanya sebuah jaket tipis yang menyelimutiku.
            Dari kejauhan tampak mobil mewahku serta pelayan yang berada di dalamnya masih menunggu. Siap kapan saja membawaku ke rumah sakit kalau-kalau aku akan pingsan. Dan seorang lagi siap dengan payungnya yang akan merangkulku ke dalam payung yang di pegangnya. Sudah hampir 3 jam aku duduk di sini tanpa ada tanda seorang pun akan menghampiriku. Dari arah belakang terdengar percikan air di jalan. Sepertinya ada orang yang datang menghampiriku. Aku melihatnya.
“Jaga dia melebihi apa yang aku lakukan untuknya.” Kata key padaku.
“Key…” saat ia tepat berada di depanku.
            Setelah mengatakan itu, key berbalik meninggalkanku. Sekilas aku melihat senyum pilu dari namja itu. Mataku terhenti melihat seorang yeoja berlari dengan payung yang siap di lemparnya kapan saja. Merangkulku yang kedinginan dalam pelukannya sambil terisak tangis.
“Kau datang....” kataku yang hampir tak bertenaga.
“Kenapa kau menungguku?” kata Chi padaku.
“Karena aku percaya kau akan datang” kataku sambil memandangi kedua bola mata yang merah karena menangis.
            Pelayanku berlari menghampiri kami berdua. Membawa 2 buah handuk untukku dan Chi. Menuntun kami masuk kedalam mobil.

*Key P.O.V
“Chi... tanpa kau sadari sakitmu telah hilang dengan kehadirannya yang dulu benar-benar tak kau inginkan” kataku sambil melihat Chi merangkul Rei.
            Rasanya sakit, melebihi ditusuk melihat mereka. Tapi seperti banyak orang berkata, ‘Bahagia melihatnya bahagia itulah cinta’. Aku membuktikan kata-kata itu, walau sakit entah kenapa wajahku terhias senyuman, walau air mata tanpa disadari telah jatuh. Serasa tak ingin tersakiti lebih dari ini, aku masuk ke mobil dan pulang ke rumah.
“Ia akan bahagia bersama Rei, Key…” kataku meyakinkan diri.

**Esok Harinya

“Bisa kukatakan sesuatu pada kalian?” tanyaku yang kini telah merangkul Namja dan Yeoja sahabatku itu.
“Ikut aku” lanjutku tersenyum sambil berjalan keluar kelas.
            Namja dan Yeoja itu tanpa sepatah katapun mengikutiku dari belakang. Kami berhenti di atap sekolah tepat dimana Chi dan aku bertukar cerita.
“Aku akan pergi” kataku setelah membalikkan badan untuk melihat wajah namja dan yeoja sahabatku itu.
“Apa yang kau katakan” balas Rei.
“yahh... seperti yang kalian dengar tadi! Aku akan pergi, ke New York.” Kataku singkat sambil tersenyum.
“Tapi kenapa?” tanya Chi yang saat itu telah memegangi tanganku.
“Karena aku tak perlu melindungimu lagi saengi...” kataku sambil mengusap kepala Chi.
“Alasanmu tidak masuk akal” kata Chi marah.
“Bagimu tidak, bagiku iya.... aku menolak permintaan ayahku agar aku bersekolah di New York karnamu Chi... saat bertemu denganmu, saat itu aku tahu aku harus melindungimu sampai kau dapat mengobati rasa sakit itu” kataku menatap Chi
“Lalu, setelah itu kau berniat meninggalkanku? Kau jahat Key!” teriak Chi yang langsung meninggalkanku dan Rei itu.
“Chi?” panggil Rei, aku langsung meniarik tangan Rei.
“Biar saja dia” kataku sambil menggelengkan kepalaku, menandakan aku tak setuju Rei mengejar Chi
“Tapi....” perkataan Rei terhenti ketika melihat sebuah tetesan air mata telah mengalir di pipiku. Aku masih tetap tersenyum, agar aku bisa meyakinkan Rei bahwa aku tak apa-apa.Rei merangkulku, aku hanya diam membalas pelukan dari sahabat baruku ini.

*Chi P.O.V
#Di kelas

“Apa yang akan dilakukannya? Kenapa dia seperti ini? Dia berubah? Apa karena kami telah bertemu Rei?” pertanyaan itu terus menghantuiku setelah pergi meninggalkan ke dua namja itu.
            Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan agar Key tidak pergi. Aku tahu persis, walau apapun yang ku lakukan untuk Key agar ia tidak menjalankan niatnya, pasti hasilnya sia-sia. Karena apabila Key telah membulatkan keputusannya, maka tak seorangpun bisa mencegahnya kecuali takdir.
            Bel pulang berbunyi, aku hanya diam sambil berjalan sendiri keluar dari kelas. Tanpa melihat Key dan Rei yang masih berada di dalam kelas. Rasanya berat bagiku untuk ditinggalkan oleh Key. Menunggu sebentar kereta yang akan membawaku pulang. Rasanya aku tak berkedip, lamunanku menembus tembok stasiun yang penuh orang ramai. Hingga kereta datang dan siap membawaku pulang.

*Key P.O.V
#Di Bandara
“Key…” kata Rei menepuk punggungku yang sudah berdiri di samping koper. Aku hanya tersenyum dan menuntun Rei menuju sebuah tempat sepi untukku dan Rei bisa berbicara.

“Dengar Rei… Aku mungkin tidak tahu kapan akan kembali, tapi jika kau menyakitinya mungkin tanpa kau sadari aku sudah di belakangmu” kataku serius menatap mata Rei.
“Baiklah Key… Tapi… Chi…” kata Rei terputus oleh bunyi langkah Chi yang semakin mendekat ke arah kami.
“Key…” panggil Chi padaku. Ku lihat Chi menangis. Aku memeluknya agar isak tangisnya mereda.
“Chi, tenanglah” kataku sambil memeluk Chi yang masih menangis.
“Berjanjilah kau akan kembali” katanya dalam sela-sela tangisannya. Aku hanya tersenyum sambil memberi tatapan tak berarti pada Chi.
“Sudah waktunya…” kataku melihat jam tangan yang diberikan oleh Chi saat natal.
“Selamat tinggal” Kataku pada kedua sahabatku.
            Akhirnya aku pergi dengan memberi Chi tatapan yang tak dimengerti olehnya, senyuman terakhir yang aku lihat dari Chi.
“Sangat cantik” pikirku dalam hati. Chi… aku harap kau akan menungguku pulang. Bahagialah bersama Rei. 











No comments:

Post a Comment