[Chapter 1] Meet You Again
Author : VhiN
Main Cast : Chi (OC), Key (OC),
Rei (OC)
Other Cast : Jung Kyu as Oppa (OC)
Rate : PG 13
Genre : Friendship, Life
Length : Series Fic
*Chi P.O.V
“Cepat sedikit dasar yeoja!” balas teriak Key sambil berlari.
Aku memang menjalankan hidupku seperti
biasa, tapi dalam hatiku, aku tak mungkin melupakan namja itu. Key, namja yang
berlari di depanku sekarang ini banyak memberiku kekuatan. Kebanyakan orang
akan berpikir aku dan Key adalah pasangan kekasih. Tapi bukan begitu cerita
yang sebenarnya.
Saat Oppa...
Namja yang menemaniku telah tiada, Key datang. Saat hujan turun di stasiun
kereta api dengan udara yang dingin, aku yang duduk diam sambil mengingat akan
namja itu, menangis di sudut stasiun, di sebuah kursi yang jauh dari keramaian,
dan saat itulah Key datang membawa sebuah minuman untukku. Walau saat itu tidak
saling kenal. Key duduk disampingku yang diam terbenamkan air mata. Key terus
berada disampingku, hingga ia menuntunku menuju kereta terakhir sambil
tersenyum.
#Di kelas
“Yah.... syukur aku bertemu dengannya.” Sebutku dalam hati
sambil memandangi punggung namja di depanku itu.
“Chi? Chi? Heiii yeoja!!” Tegur Key yang telah berbalik
memandangiku yang setengah terkejut.
“Apa kau tidak asing dengan wajah itu?” tanya Key sambil
menunjuk ke arah belakangnya dengan ibu jari berhias cincin.
Tanpa pikir panjang aku melihat orang
yang ditunjuk Key. Aku melihat seseorang berdiri di depan kelas. Semua mata
tertuju padanya saat ia memperkenalkan diri. Tingginya, potongan rambutnya,
senyumnya, gayanya, dan.... matanya. Mataku tak henti melihatnya. Tak terasa
air mata telah membasahi wajahku.
“Key… tak mungkin… itu… itu oppa!” kataku pada Key.
“Hei! Oppamu itu gak mungkin sekolah di sini, dan gak mungkin
bakal sekelas dengan kita!” kata Key meyakinkanku.
“Tapi… dia mirip dengan oppa…” aku meyakinkan Key.
“Lihat saja nanti!” balas Key yang langsung memutarkan
badanya ke depan.
“Tidak mungkin....” kata itu yang terusku ucapkan, mungkin
telah 100 kali kata itu keluar dalam benakku sambil memperhatikan namja itu.
#Dikantin
“Mwo?? Jinja? Dia benar-benar mirip dengan namja itu?!” teriak
Key sambil melihat foto oppa di ponselku.
“Entahlah.. aku tak yakin...” kataku.
“hmm... kalau dilihat dari foto ini sih... lumayan mirip!
Tinggal satu lagi yang kurang!” kata Key.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sifatnya! Yahhh… Tinggal kamu buktikan dia sama seperti
namja itu, atau tidak!” kata Key sambil mengacungkan jari telunjuknya di depan
mukaku.
Aku hanya menghela nafas melihat Key.
Dan kami melanjutkan makan siang. Sesekali Key melontarkan lelucon agar aku
tersenyum. Aku memang tersenyum sesekali. Hingga teriakan-teriakan yeoja di kantin memutuskan lelucon Key.
“Rei! Rei! Makan siang bersama kami saja!” teriak sekelompok
yeoja di sudut kantin
“Dengan kami saja Rei!” teriak kelompok yeoja lainnya.
Namja yang
diteriaki oleh mereka itu hanya menghela nafas, sambil berjalan menuju mejaku
dan Key. Ia berhenti untuk melihat kami berdua, dan berkata.
“Sorry, kalian teman sekelasku kan?” tanyanya pada kami
“Yeah..” balas Key
“Baguslah... aku susah mendapatkan tempat tenang. Mereka
selalu teriak-teriak ditelingaku” kata namja itu sambil duduk di sampingku.
“Nama kalian Chi dan Key kan? Mannaseo bagapseumnida”
lanjutnya
“yeah...” jawab Key acuh
Aku hanya melihat Key dan Rei
sebentar dan melanjutkan makan. Meja kami benar-benar hening, satu sama lain
tidak ada yang membuka pembicaraan. Beberapa bisikan sesekali terdengar di
telingar di telingaku. Seperti biasa, aku tetap tak perduli apa yang dikatakan
mereka.
Bel berbunyi tanda pelajaran
selanjutnya akan dimulai. Key langsung berdiri dan aku pun ikut berdiri, meninggalkan
namja itu sendirian duduk terpaku sambil memandangi punggung kami berdua.
*Rei P.O.V
“Yah… hujan.. Aku tak bawa payung..” kataku dalam hati
Sore itu hujan membasahi lapangan
disekolah. Sesekali para murid menerobos hujan. Menutupi kepala mereka dengan
tas. Aku terus melihat mereka. Hingga hanya tinggal aku dan Chi, teman
sekelasku yang tak pernahku dengar suaranya. Ingin sekali aku mendengar
suaranya, hingga aku memberanikan diri untuk menegurnya.
“Hei...” tegurku pada Chi.
Chi tak mengheraniku, kelihatanya ia
berniat berlari menerobos hujan. Tapi dengan satu gerakan sigap aku menarik
tangannya, dan berkata.
“Chi, ada apa? Apa ada yang salah
denganku?” tanyaku heran. Ia terus diam sambil menatapku.
“Hei jawab aku” Kataku sambil melihat
Chi yang terus diam.
Tiba-tiba
Chi mengangis. Suara hujan membenamkan
isak tangis Chi. Aku hanya terdiam melihatnya, tak tau apa yang harus aku
lakukan. Hingga akhirnya aku menguatkan diri, dan kembali berkata.
“Chi.. maaf. Aku hanya ingin kau
menyebut namaku dan bicara padaku. Panggil namaku, Chi! Hanya kau dan Key yang
mengacuhkanku” kataku meyakinkan Chi agar ia berkata.
“Chi??” kata Key terpaku ditengah
hujan dengan payung ditangan.
“Sepertinya tadi ia pulang duluan.
Apa yang dilakukanya disini?” tanyaku dalam hati ketika melihat Key.
“Apa yang kau lakukan!” bentak Key
padaku yang saat itu masih kaku sambil memegang tangan Chi.
Dengan
sigap, Key menarik Chi dalam pelukannya. Sepertinya Key salah paham padaku. Ia
terlihat begitu marah. Belum sempat aku menjelaskan apa yang terjadi, Key telah
menuntun Chi masuk ke kelas meninggalkan ku sendiri.
*Author P.O.V
“Minumlah....” kata Key sambil
memberi minuman pada Chi
“Gumawo...” gumam Chi
“Tenanglah Chi. Dia bukan namja itu!
Dia Rei!!! Kau jangan membayangkan bahwa Rei itu adalah oppamu! Oppamu hanya
ada dalam hatimu! Tidak pada diri Rei” kata Key sambil meyakinkan sahabatnya
itu.
“Ayo ku antar” lanjut Key sambil
mengambil jaketnya yang tadi diletakkannya disebelah Chi.
Key
memasangkan Jaketnya pada Chi. Chi diam tanpa melawan saat Key bilang akan
mengantarkannya pulang ke rumah. Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah dan
menerobos hujan dengan sebuah payung.
*Rei P.O.V
“Haruskah aku mengikuti mereka?”
tanyaku dalam hati saat Key dan Chi mulai berjalan menerobos hujan yang masih
deras.
Berlari
dengan tas di atas kepala, aku mencoba agar Chi dan Key tidak menyadari bahwa
aku mengikuti mereka. Berjalan dan terus berjalan. Aku tetap mengikuti mereka
hingga Chi dan Key memandang sebuah kursi kosong di sudut yang jauh dari
keramaian di stasiun kereta api. Lalu ke duanya saling memandang satu sama
lain. Dan masuk ke dalam kereta yang sudah berhenti tepat di depan mereka. Aku
masuk dari pintu yang berbeda.
“Masuklah....” kata Key sambil
tersenyum memandangi Chi.
“Gumawo Key..” balas Chi pelan dan
masuk ke rumah.
Aku
terus melihat mereka, aku berdiri di hadapan Key. Menatap hampa ke dalam mata
Key yang masih terpaku melihatku. 1,2,3....hingga 30 detik berlalu. Kami masih
tetap saling pandang dan tanpa berharap akan di jawab oleh Key, aku berkata.
“Aku tahu ada sesuatu yang membuat
kalian tidak ingin berkata apapun padaku. Mungkin memang bukan aku yang membuat
kalian seperti ini, tapi apa aku salah berada di hadapan kalian?” tanyaku pada Key.
“ikut aku, rumahku ada di dekat sini. Akan ku beri tahu
semuanya hingga kau menyadari betapa kehadiranmu sangat menyakitkan. Bukan
bagiku, tapi bagi Chi seorang.” Kata Key tegas.
*Author P.O.V
#Jalan menuju rumah Key
Mereka
berjalan lurus dari rumah Chi. Tak lama berjalan, di lihat Rei, Key berhenti di
depan sebuah rumah. Rumah yang dapat di bilang paling megah diantara semua
rumah yang ada disana. Dengan pagar yang tinggi, satpam yang terus berjaga,
hingga isi rumah tampak jelas di balik pagar yang tinggi. Rumah yang di desain dengan
dindingnya penuh kaca. Key masuk dengan di ikuti Rei. Rei memang sering
memasuki rumah semegah ini. Karena Rei sering di ajak oleh orang tuanya untuk
diperkenalkan sebagai pewaris perusahaan. Tapi entah kenapa rumah Key berbeda.
Rumahnya.... terasa lebih sepi. Walau di setiap sudut para pelayan tetap
memberi salam pada sang tuan muda dan temannya. Mereka berhenti di sebuah
ruangan. Yang sudah di duga Rei itu adalah ruang tenang untuk tuan muda.
“Duduklah...” kata Key sambil
melepaskan jaketnya yang tadi dipakai Chi.
* Key P.O.V
“Duduklah...” kataku pada Rei. Rei
mengikuti intruksiku.
“Sorry, bukan maksud untuk menyinggung,
tapi mana orang tuamu? Ku lihat hanya pelayan di sana sini.” Tanya Rei dengan
sopan.
“Entahlah... aku tak tahu” kataku dengan
senyuman.
“To the point! Rei, tanpa kau sadari,
kau mirip dengan seseorang yang telah meninggalkan Chi. Ia telah pergi, walau
Chi terus mengatakan ia baik-baik saja. Tapi aku tahu dia sakit” kataku sambil
menaruh minuman kaleng di atas meja tepat di depan Rei duduk
“Benarkah dia mirip denganku? Tak
terpikir olehku bahwa dia akan terluka” kata Rei menyesali keberadaannya.
“Yah.. kau benar. Lihatlah matanya
saat ia melihatmu. Sakit itu memang ada, tapi dia tipe yang tidak akan
mengungkapkannya walau sesakit apapun” lanjutku.
“Bisakah aku katakan sesuatu
padanya?” tanya Rei ragu.
“Entahlah... aku tak tahu” kata itu
terucap lagi dari mulutku ini.
“Memang, saat ia melihatku berbeda
dari cara orang lain melihatku. Bukan rasa simpati yang saat ini ada disini”
kata Rei sambil memegang dadanya.
“Tapi rasa cinta” kataku menyambung
perkataan Rei. Aku tahu, Rei menyukai Chi. Dia tak akan duduk di sebalah Chi
saat di kantin kalau ia tidak menyukainya. Itu salah satu tipe manusia yang
sering ku amati saat bosan.
“Yah...” balas Rei singkat, mengakui
bahwa perkataanku benar. Aku hanya tersenyum dan berbalik memandang hujan yang
masih deras dibalik kaca rumahku. Hingga Rei pamit pulang, aku masih tidak
memperlihatkan wajahku, entah apa yang terjadi padaku saat ini. Rasanya sakit
saat mengetahui bahwa Rei menyukai Chi.
*Chi P.O.V
#Di kamarku (saat yang bersamaan
dengan pembicaraan Key dan Rei)
“Dia bukan oppa... aku tahu itu. Tapi
kenapa aku tak dapat melupakan oppa” tanyaku dalam hati sambil memandangin
langit-langit kamarku.
Walau
setiap orang berkata aku harus melupakannya, tapi aku tahu jalan terbaik. Aku memang tidak akan melupakan oppa. Tapi aku
tahu, bukan rasa cinta yang aku rasakan pada oppa, tapi rasa kasih sayang.
Deringan
HP di atas meja belajar, memecahkan lamunanku. Melantunkan lagu OK yang dihiasi
oleh suara Boyband B1A4 yang disarankan oppa sebelum ia pergi. Bertuliskan NEW
EMAIL. Dengan spontan aku membuka. Aku hanya diam, sambil membaca tiap kalimat
yang dikatakan.
To : chi_b1opun@yahoo.com
From : rei_a4pigu@yahoo.com
Tittle : Bacalah... kumohon
Text : Chi... maaf jika memang kehadiran ku membuat mu
sakit. Aku yakin, tak ada yang bisa menyembuhkan
lukamu saat ini selain dia.... kau terlalu
berharga untuk tersakiti. Aku yakin, dia tak
ingin kau tersakiti, tapi yakinlah padaku, aku berbeda
dengan dia. Jangan menjauhiku, aku tak
berniat menggantikannya. Tapi
datanglah... ke taman pukul 20.00. Aku akan
tetap menunggumu.
Setelah membacanya, aku hanya
meletakkan kembali handphoneku. Aku tak ingin melihatnya. Aku akan terus
terbayang wajah oppa saat melihatnya.Melihat hujan yang semakin deras, jam kini
telah menunjukkan pukul 20.00. Tak terpikir olehku untuk pergi menemuinya.
10
menit.... 30 menit... hingga pukul 22.30. Aku melihat keluar jendela. Menatap
lurus ke arah taman kota yang tak jauh dari rumah. Tanpa sadar aku berlari
menuruni tangga, mengambil sebuah payung dan berlari menembus hujan. Di
belakangku, terdengar eouma yang berteriak memanggil namaku. Pikiranku saat ini
hanya padanya.
“Apakah ia masih di sana?” tanyaku
dalam hati
*Rei P.O.V
“Sesakit itukah?” tanyaku yang masih duduk membeku tanpa payung dan
hanya sebuah jaket tipis yang menyelimutiku.
Dari
kejauhan tampak mobil mewahku serta pelayan yang berada di dalamnya masih
menunggu. Siap kapan saja membawaku ke rumah sakit kalau-kalau aku akan
pingsan. Dan seorang lagi siap dengan payungnya yang akan merangkulku ke dalam
payung yang di pegangnya. Sudah hampir 3 jam aku duduk di sini tanpa ada tanda
seorang pun akan menghampiriku. Dari arah belakang terdengar percikan air di
jalan. Sepertinya ada orang yang datang menghampiriku. Aku melihatnya.
“Jaga dia melebihi apa yang aku
lakukan untuknya.” Kata key padaku.
“Key…” saat ia tepat berada di
depanku.
Setelah
mengatakan itu, key berbalik meninggalkanku. Sekilas aku melihat senyum pilu
dari namja itu. Mataku terhenti melihat seorang yeoja berlari dengan payung
yang siap di lemparnya kapan saja. Merangkulku yang kedinginan dalam pelukannya
sambil terisak tangis.
“Kau datang....” kataku yang hampir
tak bertenaga.
“Kenapa kau menungguku?” kata Chi
padaku.
“Karena aku percaya kau akan datang”
kataku sambil memandangi kedua bola mata yang merah karena menangis.
Pelayanku
berlari menghampiri kami berdua. Membawa 2 buah handuk untukku dan Chi.
Menuntun kami masuk kedalam mobil.
*Key P.O.V
“Chi... tanpa kau sadari sakitmu
telah hilang dengan kehadirannya yang dulu benar-benar tak kau inginkan” kataku
sambil melihat Chi merangkul Rei.
Rasanya
sakit, melebihi ditusuk melihat mereka. Tapi seperti banyak orang berkata,
‘Bahagia melihatnya bahagia itulah cinta’. Aku membuktikan kata-kata itu, walau
sakit entah kenapa wajahku terhias senyuman, walau air mata tanpa disadari telah
jatuh. Serasa tak ingin tersakiti lebih dari ini, aku masuk ke mobil dan pulang
ke rumah.
“Ia akan bahagia bersama Rei, Key…”
kataku meyakinkan diri.
**Esok Harinya
“Bisa kukatakan sesuatu pada kalian?”
tanyaku yang kini telah merangkul Namja dan Yeoja sahabatku itu.
“Ikut aku” lanjutku tersenyum sambil
berjalan keluar kelas.
Namja
dan Yeoja itu tanpa sepatah katapun mengikutiku dari belakang. Kami berhenti di
atap sekolah tepat dimana Chi dan aku bertukar cerita.
“Aku akan pergi” kataku setelah
membalikkan badan untuk melihat wajah namja dan yeoja sahabatku itu.
“Apa yang kau katakan” balas Rei.
“yahh... seperti yang kalian dengar
tadi! Aku akan pergi, ke New York.” Kataku singkat sambil tersenyum.
“Tapi kenapa?” tanya Chi yang saat
itu telah memegangi tanganku.
“Karena aku tak perlu melindungimu
lagi saengi...” kataku sambil mengusap kepala Chi.
“Alasanmu tidak masuk akal” kata Chi
marah.
“Bagimu tidak, bagiku iya.... aku
menolak permintaan ayahku agar aku bersekolah di New York karnamu Chi... saat
bertemu denganmu, saat itu aku tahu aku harus melindungimu sampai kau dapat mengobati
rasa sakit itu” kataku menatap Chi
“Lalu, setelah itu kau berniat
meninggalkanku? Kau jahat Key!” teriak Chi yang langsung meninggalkanku dan Rei
itu.
“Chi?” panggil Rei, aku langsung
meniarik tangan Rei.
“Biar saja dia” kataku sambil
menggelengkan kepalaku, menandakan aku tak setuju Rei mengejar Chi
“Tapi....” perkataan Rei terhenti
ketika melihat sebuah tetesan air mata telah mengalir di pipiku. Aku masih
tetap tersenyum, agar aku bisa meyakinkan Rei bahwa aku tak apa-apa.Rei
merangkulku, aku hanya diam membalas pelukan dari sahabat baruku ini.
*Chi P.O.V
#Di kelas
“Apa yang akan dilakukannya? Kenapa
dia seperti ini? Dia berubah? Apa karena kami telah bertemu Rei?” pertanyaan
itu terus menghantuiku setelah pergi meninggalkan ke dua namja itu.
Aku
tak tahu apa yang harus aku lakukan agar Key tidak pergi. Aku tahu persis,
walau apapun yang ku lakukan untuk Key agar ia tidak menjalankan niatnya, pasti
hasilnya sia-sia. Karena apabila Key telah membulatkan keputusannya, maka tak
seorangpun bisa mencegahnya kecuali takdir.
Bel
pulang berbunyi, aku hanya diam sambil berjalan sendiri keluar dari kelas.
Tanpa melihat Key dan Rei yang masih berada di dalam kelas. Rasanya berat
bagiku untuk ditinggalkan oleh Key. Menunggu sebentar kereta yang akan
membawaku pulang. Rasanya aku tak berkedip, lamunanku menembus tembok stasiun
yang penuh orang ramai. Hingga kereta datang dan siap membawaku pulang.
*Key P.O.V
#Di Bandara
“Key…” kata Rei menepuk punggungku
yang sudah berdiri di samping koper. Aku hanya tersenyum dan menuntun Rei
menuju sebuah tempat sepi untukku dan Rei bisa berbicara.
“Dengar Rei… Aku mungkin tidak tahu
kapan akan kembali, tapi jika kau menyakitinya mungkin tanpa kau sadari aku
sudah di belakangmu” kataku serius menatap mata Rei.
“Baiklah Key… Tapi… Chi…” kata Rei
terputus oleh bunyi langkah Chi yang semakin mendekat ke arah kami.
“Key…” panggil Chi padaku. Ku lihat
Chi menangis. Aku memeluknya agar isak tangisnya mereda.
“Chi, tenanglah” kataku sambil
memeluk Chi yang masih menangis.
“Berjanjilah kau akan kembali”
katanya dalam sela-sela tangisannya. Aku hanya tersenyum sambil memberi tatapan
tak berarti pada Chi.
“Sudah waktunya…” kataku melihat jam
tangan yang diberikan oleh Chi saat natal.
“Selamat tinggal” Kataku pada kedua
sahabatku.
Akhirnya
aku pergi dengan memberi Chi tatapan yang tak dimengerti olehnya, senyuman
terakhir yang aku lihat dari Chi.
“Sangat cantik” pikirku dalam hati. Chi…
aku harap kau akan menungguku pulang. Bahagialah bersama Rei.






No comments:
Post a Comment