Search This Blog

Monday, October 8, 2012

[FF : One Shoot] Please... Don't Say That


Please… Don’t say THAT

Author : VhiN
Main Cast : Kim Hye Rin (OC), Kim Hyun Sung (OC)
Support Cast : Ren (Nu’est), Ricky (TeenTop)
Rate : PG 13
Genre : Friendship
Length : One Shoot



*Kim Hye Rin P.O.V

            Aku menunggu sahabatku di kelas yang sepi ini, sepertinya aku datang terlalu cepat. Teman-teman sekelasku belum ada yang datang. Satu persatu mereka memasuki ruang kelas, tapi tanda-tanda Hyun Sung akan datang tidak ada. Bel telah berbunyi, dari kejahuan aku melihatnya sedang berlari kecil untuk bergegas menuju kelas. Ini dia sahabatku, Hyun Sung. Sahabat terdekatku selama di SHINWA Junior High School. Kami selalu bersama! Itu yang aku percayakan selama ini.

“Liat PR donk! Aku belum siap…” kata Hyun Sung yang sudah duduk di sampingku
“Nih…” aku memberikan bukuku padanya.

            Ia mulai menyalin PR ku, tak lama handphone na berdering. Aku tahu itu siapa… Tentu saja itu REN! Orang yang di kenal Hyun Sung di tempat ia berlatih dance. Ren selalu menghubungi Hyun Sung, selalu mengontrolnya seakan ia adalah APPA, EOUMA, OPPA, EOUNI-nya Hyun Sung! Terus terang aku tak suka dengannya. Tapi demi Hyun Sung aku terus memendam ke tidak sukaanku pada Ren, dan berpura-pura care tentang Ren di hadapannya.

>>SKIP<<

            Ini sudah waktunya kami pulang sekolah, aku mengajak Hyun Sung untuk pergi ke cafe tempat biasanya kami menghabiskan waktu. Dan terus saja! Hyun Sung memegang handphonenya.
“Eh, entar ada festival loh! Pergi yo!” saranku padanya.
“Ehm… Liat entar la…” balasnya.
“Aku pengen buat cincin, katanya sih bisa buat nama!” kataku
“Ehm…” ia tak memberika jawaban pasti.

            Setelah kami menghabiskan waktu kira-kira 1 jam di cafe, akhirnya kami pulang. Kamarku benar-benar hangat. Walau hujan membasahi jendela kamarku. Aku membuka buku pelajaranku, mulai menyelesaikan beberapa soal. Kenapa aku bisa serajin ini? Karena 1 bulan lagi kami akan menghadapi ujian kelulusan. Aku dan Hyun Sung sudah memilih sekolah lanjutan kami, dan salah satu pertimbanganku memilih sekolah itu adalah agar aku bisa melihat Hyun Sung walau kelas kami berbeda.

            Aku yang sekarang sedang belajar sendiri di kamarku , sedangkan di Hyun Sung, aku tahu ia di mana. Ia pasti ada di tempat latihan dancenya. Aku sudah mengatakan padanya agar ia fokus pada ujian dan kesehatannya. Tapia pa yang terjadi? Dia selalu mendengarkan perkataan Ren di banding aku.


*Hyun Sung P.O.V

            Aku berdiri menghadap cermin yang memantulkan bayangan diriku. Di belakangku Ren sunbae, tersenyum sambil mengarahkanku. Aku tahu seharusnya aku seperti Hye Rin yang fokus pada belajar. Tapi aku tak bisa menentang Ren sunbae… Orang yang selalu memikirkanku, ia memberiku motivasi, ia juga perduli padaku, ia juga tak ingin aku sakit, atau apapun! Ku pikir dia namja yang baik…
“Hyun Sung-ah! Cukup sampai di sini saja latihan kita, sepertinya kau lelah! Ingat jangan minum yang dingin!” perintahnya padaku.
“Ne…” Balasku
            Aku duduk di sebuah kursi di samping jendela. Memandang lurus melihat kota. Tak lama, suara decit pintu terbuka. Lee Ki Sung, namja yang dulu adalah kekasihku berjalan dengan seorang yeoja yang ku kenal adalah Park Hye Min eouni. Rasanya sakit melihat mereka bersama. Dan sepertinya Ren  sunbae tahu arah pandanganku, ia menepuk pelan pundakku sambil menuntunku menuruni tangga.
“Jangan perdulikan nappun namja itu! Kau lebih baik dari pada Hye Min_sii. Ini hanya masalah waktu” kata Ren sunbae padaku
“Gwaenchanayo sunbae… Aku tahu itu” balasku.
            Aku mengirim massage pada Hye Rin. Ia membalasnya lebih cepat dari yang ku duga! Kata-katanya meyakinkanku untuk tegar!

“Tak perlu kamu pedulikan Ki Sung PABO itu, Hyun Sung-ah… Hye Min itu tak ada apa-apanya. Aku rasa ia hanya pelampiasan, dan kau tahu? Ki Sung PABO itu sudah tak waras memilih Hye Min” katanya
“Tapi, aku gak bisa liat dia sama eouni…” balasku
“Aish~ cari aja yang baru! Ki Sung itu ada banyak! Tinggal pilih, mau marga apa?! KIM? PARK? JO? CHOI? CHO? Atau apa! Asal bukan LEE KI SUNG YANG ITU!” balasnya
            Aku tersenyum melihat balasannya. Kata-katanya memang terdengar sedikit  kasar, tapi aku tahu itu demi aku. Ia terus memberiku pilihan yang tak dapat ku pilih, tapi entah kenapa aku bisa melupakan kekesalanku pada Ki Sung dan eouni…

*Hye Rin P.O.V
#Esok Harinya

            Hari ini adalah tes untuk menambah nilai ujian kami nanti. Aku bersyukur aku dapat menjawabnya dengan baik. Tapi, bagaimana dengan Hyun Sung? Aku khawatir padanya.
“Ottokhe?? Bisa jawabnya?” tanyaku saat makan siang.
“Kayaknya ada yang salah deh…” jawabnya
“Ya udah lah! Ntar gak boleh salah lagi, kali ini aku traktir!” kataku.
            Ia mengangguk pelan. Beruntung aku dapat uang saku tambahan dari eouma. Aku memang terlahir dengan keluarga yang cukup mampu. Walau dulu saat masih kecil aku merasa eouma dan appa harus banting tulang agar mereka sesukses sekarang. Aku adalah anak tunggal, tulang punggung keluargaku nanti. Berbeda denganku, Hyun Sung hidup terpisah dari orang tuanya, ia belajar di sini sedangkan orang tuanya di desa. Setiap bulan ia akan di kirimi uang saku oleh orang tuanya. Kadang itu cukup untuknya, tapi terkadang ia harus menahan keinginannya untuk memiliki barang.
            2 Hari lagi Hyun Sung ulang tahun! Aku sudah mempersiapkan kado untuknya. Ku harap ia menyukainya. Aku bersama Min Kyung dan Ki Na membuat rencana untuk hari ulang tahun Hyun Sung. Ulang tahun pertama yang kami rayakan saat kami bersahabat.



>>SKIP<<

            Hari ini adalah hari ulang tahun Hyun Sung, aku memasukkan kotak hadiah di dalam tasku. Wah! Kotak itu memenuhi isi tasku! Semua perkataan Hyun Sung hanya ku balas Ehm, Ne, Terserah, Ga Tau!. Begitu juga yang di lakukan Min Kyung. Hanya Ki Na yang tetap bersikap apa adanya. Sepertinya Hyun Sung mulai kesal. Setelah pelajaran berakhir ia buru-buru mengemasi barangnya. Tanpa 1 kata pun ia pergi sendirian. Aku menarik tangannya bersama Min Kyung dan mulai bernyanyi.
“Saengil chukae hamnida… Saengil chukae hamnida.. saranghaeyo Hyun Sung-ah~ Saengil chukae hamnida!!”

            Ia tampak terkejut. Aku memberikan kado itu padanya, di ikuti kado pemberian Min Kyung dan Ki Na. Tapi ia tak mau menerima pemberianku. Ini saatnya aku mulai membuktikan rasa kasih sayang seorang sahabat darinya.
“Ya udah! Kalau gak mau terima! Aku ga perduli! Nih buang aja!!” pekikku sambil meletakkan kado itu di tangannya lalu berlari meninggalkan mereka.
“Hye Rin-ah~ ia… Jongmal Mianhae! Aku mau kok terima! Gumawoyo!” katanya padaku

            Aku masih pura-pura tidak mengheranninya. Hingga akhirnya ia melihatku, sepertinya ia ingin menangis. Aish~ aku benar-benar tidak bisa melihatnya menangis!
“hehe… Hyun Sung-ah~ aku hanya bercana… Saengil chukae Hyun Sung-ah!” kataku memeluknya.
           
Kami menuju SHINWA High School untuk melihat beberapa kelas di sana. Seperti yang ku duga, banyak dari pelajar SHINWA yang di kenal oleh Hyun Sung. Orang-orang yang ku ketahui mengikuti latihan bersama Hyun Sung. Aku sedikit kecewa, sepertinya tak ada yang menyadari keberadaan ku. Aku melarikan diri dari mereka, meninggalkan Hyun Sung yang asik dengan sunbae-sunbaenya.

Aku berjalan lurus di koridor. Hingga aku menemukan sebuah perpustakaan yang lumayan besar. Aku memasukinya. Ku lihat seorang namja sedang duduk membaca buku di dekat jendela. Aku mencoba menarik sebuah buku, lalu duduk tak jauh dari namja itu. Sepertinya namja itu menyadari keberadaanku, ia melihatku. Aku terus saja memandangi buku di hadapanku mencoba untuk tidak melihat namja itu. Tapi dia berdiri, bunyi langkahnya menggema ke seluruh ruangan. Dia menarik kursi di sebelahku.
“Aku boleh duduk di sini kan?” tanya namja itu padaku.
            Aku memandanginya, dan mengangguk pelan. Ia duduk di sampingku, sepertinya ia memperhatikan ku.
“Kau anak SHINWA Junior High School?” tanya namja itu
“Ne…” balasku
“Ah~ iya! Aku ingat! Kau temannya Hyun Sung_sii!! Yang selalu berdua kemana-mana” katanya
“Ne… Hyun Sung dan aku bersahabat” jelasku
“Aku selalu memperhatikan kalian! Ah~ Ricky imnida…” katanya mengulurkan tangannya padaku
“Hye Rin imnida…” aku memperkenalkan diriku.

            Namja di sampingku bernama Ricky, aku tau itu. Ia adalah sunbae ku dan Hyun Sung di SHINWA Junior High School. Tak ku sangka ia bersekolah di SHINWA High School. Ia juga salah satu sunbae Hyun Sung latihan. Kenapa aku bisa mengenal mereka semua? Karena mereka selalu berkumpul bersama meninggalkanku sendiri. Entah kenapa, saat mereka bersama ada dinding pembatas antara aku dan Hyun Sung yang tak bisa ku tembus.

“Hye Rin_sii?? Waeyo? Apa kau sakit?” tanya Ricky padaku.
“Ah.. Annio sunbae…” balasku sambil menunduk mencoba fokus pada bukuku.

            Ia berdiri, meninggalkanku tanpa sepatah kata. Apa yang terjadi? Apa aku berbuat salah padanya? Ricky adalah namja yang pernah ku sukai. Dia sunbae yang cukup populer di kalangan juniornya. Wajah tampannya dengan rambut yang selalu di cat merah. Ia juga adalah atlet basket. Banyak Yeoja yang tergila-gila padanya. Tapi tak pernah ada yang tahu apakah ia memiliki yeojachingu atau tidak. Ia kembali menghampiriku, ku lihat ada dua buah minuman di tangannya. Ia menyerahkan salah satunya padaku.
“Ambil! Aku tak mintamu untuk membayarnya kok…” katanya padaku.
“Gumawoyo sunbae…” kataku.
            Hyun Sung berlari menghampiriku dan Ricky, ia sedikit terkejut melihatku. Ia memberi salam pada Ricky dan menarikku untuk pulang.

>>SKIP<<

            Hari ini hari ujian kelulusan. Beberapa bulan belakangan ini aku fokus belajar demi ujianku ini. Waktuku bersama Hyun Sung menjadi sebentar. Jadwalku begitu banyak di isi belajar, dari pagi hingga sore kami di sekolah, sedangkan malamnya aku les privat. Aku sadar Hyun Sung mungkin kesepian karena aku tak terlalu sering bersamanya. Tapi yang ku ketahui adalah, tetap ada Ren yang selalu bersamanya.
            Ujian kali ini pun aku lalui dengan jawaban yang memuaskan. Lihatlah! 3 mata pelajaranku dihiasi nilai 98, hanya 1 mata pelajaran yang 85. Aku cukup bersyukur dengan nilaiku. Tapi tidak dengan Hyun Sung, nilai 85 dan 70-an menghiasi kertas hasil ujiannya. Tapi tampaknya ia tak sedih. Aku tak dapat menghiburnya, karena ia pasti akan berkata ‘kau tak tau rasanya. Karena kau selalu mendapat nilai tinggi’. Aku tak mau itu terucap dari mulut Hyun Sung.
            Perbedaan di antara kami terlalu besar, aku terus mencoba menutupi perbedaan itu. Aku selalu katakan bahwa eouma dan appa ku adalah orang tua Hyun Sung juga. Aku selalu berusaha apa yang ku punya juga ia miliki. Mungkin orang akan berpikir Hyun Sung memanfaatkanku, tapi hanya ini caraku agar perbedaan di antara kami tak terlihat.

            Penerimaan siswa baru sudah di lakukan. Kami berbeda kelas, dan jadwal sekolahku berbeda dengan Hyun Sung. Hyun Sung mengikuti kelas khusus, sedangkan aku tidak. Eouma katakan padaku, jika aku mengikuti kelas khusus, maka kondisi kesehatanku akan menurun. Sekarang perbedaan di antara kami begitu besar dengan berbedanya kelas.

“Hye Rin_sii… Apa kau ada menghubungi Hyun Sung_sii?” tanya Ricky padaku
“Annio sunbae… aku takut  menganggunya.” Jawabku.
“Kau terlalu peduli padanya…” kata Ricky
“Aku hanya ingin menjadi sahabat yang selalu peduli padanya…” jawabku tersenyum

            Perasaanku pada Ricky masih tetap sama, walau ku coba beralih pada namja lain, entah mengapa aku tetap saja melihat Ricky berbeda. Hyun Sung tentu tahu tentang perasaanku pada Ricky. Dulu ia sempat membantuku untuk dekat dengannya, namun hasilnya nihil. Tapi, sekarang? Bahkan Ricky lah menghampiriku. Aneh rasanya…

“Ehm… Hye Rin_sii… Bagaimana menurutmu tentang Hyun Sung_sii?” tanya Ricky sambil melihat ke langit
“Ku pikir dia yeoja yang tegar… Aku begitu menyayanginya, lebih dari saudara. Walau aku anak tunggal” kataku
“Bolehkah aku memilikinya?” tanya Ricky

            Apa? Ricky menyukai Hyun Sung? Benarkah ini? Namja yang ku sukai selama ini sekarang mengatakan padaku bahwa ia menyukai sahabatku. Rasanya begitu sakit, apa ini benar-benar nyata? Aku tersenyum pada Ricky. Dan berkata.

“Kalau subae bisa membuatnya bahagia… Kenapa tidak..” jawabku
“Bagaimana caraku mengungkapkan padanya…?” tanya Ricky padaku
“Sunbae hanya harus menunjukkan rasa perduli padanya” kataku.

            Ia mengangguk pelan padaku. Lalu pamit. Aku tetap di sini, di taman tempat aku biasa duduk bersama Hyun Sung yang sekarang sedang berada di sekolah. Aku benar-benar kesepian. Aku memiliki sahabat, memang sahabatku dari kecil. Tapi saat di smp aku dan dia berbeda sekolah. Itu membuat hubungan kami sedikit berkurang karena jarang bertemu. Tapi saat di SHINWA High School kami menjadi dekat. Walau aku memiliki sahabat yang datang kembali padaku, tapi bagiku tempat untuk Hyun Sung masih ada. Dalam 3 tahun di SHINWA Junior School, ia selalu membantuku menyelesaikan masalahku dengan teman-teman di kelas. Suka, duka kami lalui bersama. Tapi, saat acara kelulusan yang tepat pada hari ulang tahunku ia tak datang ke acaraku.
           
            Aku selalu berpikir positif padanya, walau aku tahu bahwa Ren lah yang melarangnya datang ke pestaku. Bahkan sepertinya Hyun Sung melupakan hari ulang tahunku. Pikiranku adalah, kalau ia mengingat hari ulang tahunku, ia pasti menentang Ren. Aku tetap sabar, walau hari itu sahabatku sendiri tidak datang.

“Hye Rin-ah! Ricky sunbae bilang ia menyukaiku…” Hyun Sung mengirim massage ke padaku
“Ne.. Aku tahu..” balasku
“Kau tak apa?” tanya Hyun Sung
“Aku tak apa… Lagi pula, aku tak menyukainya lagi” aku berbohong
“Jinja? Benarkah? Apa kau tak sedih?” tanya Hyun Sung kembali
“Tidak sama sekali…” kataku berbohong
“Terima saja dia…” kataku kembali
“Ehm…” balasnya

            Aku mengangis sendiri di kamar. Aku tak apa-apa… Aku bahagia melihat sahabatku sendiri bahagia, walau aku harus merelakan namja yang ku sukai selama ini padanya. Aku lebih merelakan namja itu bersama sahabatku dari pada bersama yeoja lain. Walau sakit, aku akan tetap tersenyum pada sahabatku ini.

>>SKIP<<

            Hari ini, teman-teman kami saat di SHINWA Junior School mengadakan reunian. Terus terang, kami sering mengadakannya. Walau belum sampai 1 tahun kami berpisah, tapi itu lah kekompakkan kelas kami. Sudah 3 kali kami mengadakan reunian, tapi Hyun Sung tak pernah datang. Alasan utamanya adalah REN! Ren selalu melarangnya untuk ikut dengan alasan ‘untuk apa pergi reuni kalau kau bisa istirahat pada waktu itu’. Aku bisa memahami perkataan Ren itu, aku juga berpikir sama karena itu demi kebaikan Hyun Sung. Tapi, aku benar-benar merindukan saat kami bersama. Aku rindu saat kami benar-benar berkumpul seperti 1 kelas dulu. Ini adalah yang ke 4 kalinya kami berkumpul. Kali ini, aku benar-benar ingin Hyun Sung datang. Aku mengirim massage padanya pukul 20.00. Tapi, ia membalas massageku tengah malam. Aku tertidur menunggu balasannya, hingga aku terbangun melihat balasan sahabatku ini. Dengan air mata mengalir aku membaca massage balasannya.

“Ren menyuruhku untuk tidak mengikutinya….” Balasnya
            Ren.. Ren! Ren lagi! 1 kali saja ia mendengar kata-kataku dan menentang Ren. Tapi rasanya mustahil. Ke sabaranku cukup sampai di sini. Aku membalas massage na.

“Aish~ ya sudah! Ren aja yang kau turuti… yang lain TIDAK PENTING juga kok!” balasku.
“Aku juga belum mendapat kiriman dari orang tuaku…” ia membela diri.
“Ya terserah. Yang lain TIDAK PENTING kan? Kecuali kata-kata Ren!” balasku, sambil menangis menatap hanphone di tanganku.
“Ya terserah lah.. Mau bilang apa. Sekarang kau sudah jauh dariku. Kau sudah gak tahu lagi keadaan ku sekarang gimana. Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu. Mungkin aku belum bisa seperti yang kau inginkan..” balasnya.

            Tidak.. Jangan katakan itu… Aku takut persahabatan ku dengan Hyun Sung berakhir di sini…
“Aku bahkan masih ragu dengan kau… Kau sudah berubah. Teman-teman gak akan cari aku. Sedangkan kau? Kau dekat dengan mereka, kita berbeda…” balasnya kembali
“Maaf kalau kali ini aku memang memaksamu Hyun Sung-ah… Sepertinya kita tidak bisa seperti dulu lagi… Kita sudah punya jalan masing-masing. Tembok di antara kita terlalu tinggi… Bahkan lebih tinggi dari yang ku bayangkan… Aku tak bisa memahamimu lagi… Maaf… Jongmal mianhaeyo..” balasku
“Jongmal gumawoyo Hye Rin-ah… Untuk semuanya….” Balasnya.

            Tidak… Jangan katakan terima kasih padaku! Tidak… Jangan kata itu! Aku tak ingin mendengar  kata itu! Tidak… Aku melakukan semuanya bukan untuk mendengar kata-kata itu… Aku terus menangis hingga tertidur.

            Pagi ini aku masih saja memikirkan Hyun Sung. Tiada hari  tanpa menyebut namanya, itu yang selalu ku lakukan dulu. Tapi sepertinya ia bahkan tak memikirkan aku. Aku mulai ragu padanya, apakah ia bersahabat denganku cuma untuk mengatakan teriama kasih…
            Aku berjalan menuju koridor rumah sakit. Rasanya aku benar-benar tak bertenaga, eouma menuntunku ke ruangan dokter. Tapi aku sudah kehilangan kesadaranku. Saat aku bangun, aku sudah di ruang inap. Melihat eouma yang menangis bersama appa. Apa penyakitku tambah parah? Ku dengar langkah kaki dokter menghampiri orang tuaku. Samar-samar ku dengar aku hanya dapat bertahan beberapa hari lagi. Aku tahu penyakit kanker ku tak bisa di sembuhkan. Dan cepat atau lambat ini akan terjadi. Aku meminta eouma untuk membawakan laptopku ke rumah sakit. Dan di sinilah aku. Menulis beberapa surat untuk sahabatku, orang tua ku. File ini aku posting ke blog pribadiku, agar teman-teman ku dapat terus mengenangku walau hanya blog.

Suratku untuk Hyun Sung :



To : Hyun Sung sahabatku

       Harusnya aku yang berterima kasih padamu, karena kau telah mau menjadi sahabat bagi aku yang egois ini. Aku bahagia, jika semua yang kau lakukan berhasil dengan sempurna. Tapi jangan katakan padaku bahwa kau hanya bersandiwara untuk mejadi sahabatku. Ku mohon, berbohong lah padaku kalau kau menjadi sahabatku tulus dari hati mu. Maaf jika aku terus memaksamu, aku tumbuh di keluarga yang berbeda denganmu, tapi aku hanya ingin bukan aku saja yang merasakan kasih sayang itu, aku juga ingin kau merasakannya. Keputusan sepihak memang… Hanya itu yang dapat ku lakukan untuk memecahkan tembok di antara kita. Tapi tampaknya bahkan tembok itu sulit ku pecahkan lagi, aku tak memiliki kekuatan untuk melakukannya lagi, bahkan di saat terakhir aku tak bisa memelukmu dan mengucapkan terima kasih atas segalanya…

       Aku benar-benar bukan sahabat yang baik, aku hanya sahabat yang egois selalu mementingkan keinginanku tanpa memperdulikan perasaanmu. Jongmal Mianhaeyo Hyun Sung-ah… Gumawo…

Hye Rin~

Aku menangis mengingat semua yang telah kami jalani bersama. Aku benar-benar merindukanmu Hyun Sung… Ku harap kau bahagia setelah aku pergi, percayalah pada dirimu, aku tak ingin kau terus di kendalikan oleh orang lain… Tapi, sepertinya maksudku tak tersampaikan padamu, bahkan saat terakhirpun aku tak dapat mengatakannya.
Aku mulai kehilangan kesadaranku, melihat orang-orang yang ku sayangi datang untuk melihatku terakhir kalinya.  Tapi, aku tak menemukan sosok yang ku cari, Hyun Sung. Tuhan… izinkan sebentar saja aku melihatnya. Pintu ruangan terbuka, ku dengar isak tangis Hyun Sung, aku tersenyum dan menutup mataku. Terima kasih Hyun Sung, saat terakhirku aku dapat melihatmu.


~END~

No comments:

Post a Comment