Please… Don’t say THAT
Author : VhiN
Main Cast : Kim Hye Rin (OC),
Kim Hyun Sung (OC)
Support Cast : Ren (Nu’est),
Ricky (TeenTop)
Rate : PG 13
Genre : Friendship
Length : One Shoot
*Kim Hye Rin P.O.V
Aku
menunggu sahabatku di kelas yang sepi ini, sepertinya aku datang terlalu cepat.
Teman-teman sekelasku belum ada yang datang. Satu persatu mereka memasuki ruang
kelas, tapi tanda-tanda Hyun Sung akan datang tidak ada. Bel telah berbunyi,
dari kejahuan aku melihatnya sedang berlari kecil untuk bergegas menuju kelas.
Ini dia sahabatku, Hyun Sung. Sahabat terdekatku selama di SHINWA Junior High School.
Kami selalu bersama! Itu yang aku percayakan selama ini.
“Liat PR donk! Aku belum siap…” kata
Hyun Sung yang sudah duduk di sampingku
“Nih…” aku memberikan bukuku padanya.
Ia
mulai menyalin PR ku, tak lama handphone na berdering. Aku tahu itu siapa…
Tentu saja itu REN! Orang yang di kenal Hyun Sung di tempat ia berlatih dance.
Ren selalu menghubungi Hyun Sung, selalu mengontrolnya seakan ia adalah APPA,
EOUMA, OPPA, EOUNI-nya Hyun Sung! Terus terang aku tak suka dengannya. Tapi
demi Hyun Sung aku terus memendam ke tidak sukaanku pada Ren, dan berpura-pura
care tentang Ren di hadapannya.
>>SKIP<<
Ini
sudah waktunya kami pulang sekolah, aku mengajak Hyun Sung untuk pergi ke cafe
tempat biasanya kami menghabiskan waktu. Dan terus saja! Hyun Sung memegang
handphonenya.
“Eh, entar ada festival loh! Pergi yo!”
saranku padanya.
“Ehm… Liat entar la…” balasnya.
“Aku pengen buat cincin, katanya sih
bisa buat nama!” kataku
“Ehm…” ia tak memberika jawaban pasti.
Setelah
kami menghabiskan waktu kira-kira 1 jam di cafe, akhirnya kami pulang. Kamarku
benar-benar hangat. Walau hujan membasahi jendela kamarku. Aku membuka buku
pelajaranku, mulai menyelesaikan beberapa soal. Kenapa aku bisa serajin ini?
Karena 1 bulan lagi kami akan menghadapi ujian kelulusan. Aku dan Hyun Sung
sudah memilih sekolah lanjutan kami, dan salah satu pertimbanganku memilih
sekolah itu adalah agar aku bisa melihat Hyun Sung walau kelas kami berbeda.
Aku
yang sekarang sedang belajar sendiri di kamarku , sedangkan di Hyun Sung, aku
tahu ia di mana. Ia pasti ada di tempat latihan dancenya. Aku sudah mengatakan
padanya agar ia fokus pada ujian dan kesehatannya. Tapia pa yang terjadi? Dia
selalu mendengarkan perkataan Ren di banding aku.
*Hyun Sung P.O.V
Aku
berdiri menghadap cermin yang memantulkan bayangan diriku. Di belakangku Ren
sunbae, tersenyum sambil mengarahkanku. Aku tahu seharusnya aku seperti Hye Rin
yang fokus pada belajar. Tapi aku tak bisa menentang Ren sunbae… Orang yang
selalu memikirkanku, ia memberiku motivasi, ia juga perduli padaku, ia juga tak
ingin aku sakit, atau apapun! Ku pikir dia namja yang baik…
“Hyun Sung-ah! Cukup sampai di sini saja
latihan kita, sepertinya kau lelah! Ingat jangan minum yang dingin!”
perintahnya padaku.
“Ne…” Balasku
Aku
duduk di sebuah kursi di samping jendela. Memandang lurus melihat kota. Tak
lama, suara decit pintu terbuka. Lee Ki Sung, namja yang dulu adalah kekasihku
berjalan dengan seorang yeoja yang ku kenal adalah Park Hye Min eouni. Rasanya
sakit melihat mereka bersama. Dan sepertinya Ren sunbae tahu arah pandanganku, ia menepuk
pelan pundakku sambil menuntunku menuruni tangga.
“Jangan perdulikan nappun namja itu! Kau
lebih baik dari pada Hye Min_sii. Ini hanya masalah waktu” kata Ren sunbae
padaku
“Gwaenchanayo sunbae… Aku tahu itu”
balasku.
Aku
mengirim massage pada Hye Rin. Ia membalasnya lebih cepat dari yang ku duga!
Kata-katanya meyakinkanku untuk tegar!
“Tak perlu kamu pedulikan Ki Sung PABO itu, Hyun Sung-ah… Hye Min itu tak ada apa-apanya. Aku rasa ia hanya pelampiasan, dan kau tahu? Ki Sung PABO itu sudah tak waras memilih Hye Min” katanya
“Tak perlu kamu pedulikan Ki Sung PABO itu, Hyun Sung-ah… Hye Min itu tak ada apa-apanya. Aku rasa ia hanya pelampiasan, dan kau tahu? Ki Sung PABO itu sudah tak waras memilih Hye Min” katanya
“Tapi, aku gak bisa liat dia sama
eouni…” balasku
“Aish~ cari aja yang baru! Ki Sung itu
ada banyak! Tinggal pilih, mau marga apa?! KIM? PARK? JO? CHOI? CHO? Atau apa!
Asal bukan LEE KI SUNG YANG ITU!” balasnya
Aku
tersenyum melihat balasannya. Kata-katanya memang terdengar sedikit kasar, tapi aku tahu itu demi aku. Ia terus
memberiku pilihan yang tak dapat ku pilih, tapi entah kenapa aku bisa melupakan
kekesalanku pada Ki Sung dan eouni…
*Hye Rin P.O.V
#Esok Harinya
Hari
ini adalah tes untuk menambah nilai ujian kami nanti. Aku bersyukur aku dapat
menjawabnya dengan baik. Tapi, bagaimana dengan Hyun Sung? Aku khawatir
padanya.
“Ottokhe?? Bisa jawabnya?” tanyaku saat
makan siang.
“Kayaknya ada yang salah deh…” jawabnya
“Ya udah lah! Ntar gak boleh salah lagi,
kali ini aku traktir!” kataku.
Ia
mengangguk pelan. Beruntung aku dapat uang saku tambahan dari eouma. Aku memang
terlahir dengan keluarga yang cukup mampu. Walau dulu saat masih kecil aku
merasa eouma dan appa harus banting tulang agar mereka sesukses sekarang. Aku
adalah anak tunggal, tulang punggung keluargaku nanti. Berbeda denganku, Hyun
Sung hidup terpisah dari orang tuanya, ia belajar di sini sedangkan orang
tuanya di desa. Setiap bulan ia akan di kirimi uang saku oleh orang tuanya.
Kadang itu cukup untuknya, tapi terkadang ia harus menahan keinginannya untuk
memiliki barang.
2
Hari lagi Hyun Sung ulang tahun! Aku sudah mempersiapkan kado untuknya. Ku
harap ia menyukainya. Aku bersama Min Kyung dan Ki Na membuat rencana untuk hari
ulang tahun Hyun Sung. Ulang tahun pertama yang kami rayakan saat kami
bersahabat.
>>SKIP<<
Hari
ini adalah hari ulang tahun Hyun Sung, aku memasukkan kotak hadiah di dalam
tasku. Wah! Kotak itu memenuhi isi tasku! Semua perkataan Hyun Sung hanya ku
balas Ehm, Ne, Terserah, Ga Tau!. Begitu juga yang di lakukan Min Kyung. Hanya
Ki Na yang tetap bersikap apa adanya. Sepertinya Hyun Sung mulai kesal. Setelah
pelajaran berakhir ia buru-buru mengemasi barangnya. Tanpa 1 kata pun ia pergi
sendirian. Aku menarik tangannya bersama Min Kyung dan mulai bernyanyi.
“Saengil chukae hamnida… Saengil chukae
hamnida.. saranghaeyo Hyun Sung-ah~ Saengil chukae hamnida!!”
Ia
tampak terkejut. Aku memberikan kado itu padanya, di ikuti kado pemberian Min
Kyung dan Ki Na. Tapi ia tak mau menerima pemberianku. Ini saatnya aku mulai
membuktikan rasa kasih sayang seorang sahabat darinya.
“Ya udah! Kalau gak mau terima! Aku ga
perduli! Nih buang aja!!” pekikku sambil meletakkan kado itu di tangannya lalu
berlari meninggalkan mereka.
“Hye Rin-ah~ ia… Jongmal Mianhae! Aku
mau kok terima! Gumawoyo!” katanya padaku
Aku
masih pura-pura tidak mengheranninya. Hingga akhirnya ia melihatku, sepertinya
ia ingin menangis. Aish~ aku benar-benar tidak bisa melihatnya menangis!
“hehe… Hyun Sung-ah~ aku hanya bercana…
Saengil chukae Hyun Sung-ah!” kataku memeluknya.
Kami menuju SHINWA
High School untuk melihat beberapa kelas di sana. Seperti yang ku duga, banyak
dari pelajar SHINWA yang di kenal oleh Hyun Sung. Orang-orang yang ku ketahui mengikuti
latihan bersama Hyun Sung. Aku sedikit kecewa, sepertinya tak ada yang
menyadari keberadaan ku. Aku melarikan diri dari mereka, meninggalkan Hyun Sung
yang asik dengan sunbae-sunbaenya.
Aku berjalan lurus di
koridor. Hingga aku menemukan sebuah perpustakaan yang lumayan besar. Aku
memasukinya. Ku lihat seorang namja sedang duduk membaca buku di dekat jendela.
Aku mencoba menarik sebuah buku, lalu duduk tak jauh dari namja itu. Sepertinya
namja itu menyadari keberadaanku, ia melihatku. Aku terus saja memandangi buku
di hadapanku mencoba untuk tidak melihat namja itu. Tapi dia berdiri, bunyi
langkahnya menggema ke seluruh ruangan. Dia menarik kursi di sebelahku.
“Aku boleh duduk di sini kan?” tanya
namja itu padaku.
Aku
memandanginya, dan mengangguk pelan. Ia duduk di sampingku, sepertinya ia
memperhatikan ku.
“Kau anak SHINWA Junior High School?”
tanya namja itu
“Ne…” balasku
“Ah~ iya! Aku ingat! Kau temannya Hyun
Sung_sii!! Yang selalu berdua kemana-mana” katanya
“Ne… Hyun Sung dan aku bersahabat” jelasku
“Aku selalu memperhatikan kalian! Ah~
Ricky imnida…” katanya mengulurkan tangannya padaku
“Hye Rin imnida…” aku memperkenalkan
diriku.
Namja
di sampingku bernama Ricky, aku tau itu. Ia adalah sunbae ku dan Hyun Sung di
SHINWA Junior High School. Tak ku sangka ia bersekolah di SHINWA High School.
Ia juga salah satu sunbae Hyun Sung latihan. Kenapa aku bisa mengenal mereka
semua? Karena mereka selalu berkumpul bersama meninggalkanku sendiri. Entah
kenapa, saat mereka bersama ada dinding pembatas antara aku dan Hyun Sung yang
tak bisa ku tembus.
“Hye Rin_sii?? Waeyo? Apa kau sakit?”
tanya Ricky padaku.
“Ah.. Annio sunbae…” balasku sambil
menunduk mencoba fokus pada bukuku.
Ia
berdiri, meninggalkanku tanpa sepatah kata. Apa yang terjadi? Apa aku berbuat
salah padanya? Ricky adalah namja yang pernah ku sukai. Dia sunbae yang cukup
populer di kalangan juniornya. Wajah tampannya dengan rambut yang selalu di cat
merah. Ia juga adalah atlet basket. Banyak Yeoja yang tergila-gila padanya.
Tapi tak pernah ada yang tahu apakah ia memiliki yeojachingu atau tidak. Ia
kembali menghampiriku, ku lihat ada dua buah minuman di tangannya. Ia
menyerahkan salah satunya padaku.
“Ambil! Aku tak mintamu untuk
membayarnya kok…” katanya padaku.
“Gumawoyo sunbae…” kataku.
Hyun
Sung berlari menghampiriku dan Ricky, ia sedikit terkejut melihatku. Ia memberi
salam pada Ricky dan menarikku untuk pulang.
>>SKIP<<
Hari
ini hari ujian kelulusan. Beberapa bulan belakangan ini aku fokus belajar demi
ujianku ini. Waktuku bersama Hyun Sung menjadi sebentar. Jadwalku begitu banyak
di isi belajar, dari pagi hingga sore kami di sekolah, sedangkan malamnya aku
les privat. Aku sadar Hyun Sung mungkin kesepian karena aku tak terlalu sering
bersamanya. Tapi yang ku ketahui adalah, tetap ada Ren yang selalu bersamanya.
Ujian
kali ini pun aku lalui dengan jawaban yang memuaskan. Lihatlah! 3 mata
pelajaranku dihiasi nilai 98, hanya 1 mata pelajaran yang 85. Aku cukup
bersyukur dengan nilaiku. Tapi tidak dengan Hyun Sung, nilai 85 dan 70-an
menghiasi kertas hasil ujiannya. Tapi tampaknya ia tak sedih. Aku tak dapat
menghiburnya, karena ia pasti akan berkata ‘kau tak tau rasanya. Karena kau
selalu mendapat nilai tinggi’. Aku tak mau itu terucap dari mulut Hyun Sung.
Perbedaan
di antara kami terlalu besar, aku terus mencoba menutupi perbedaan itu. Aku
selalu katakan bahwa eouma dan appa ku adalah orang tua Hyun Sung juga. Aku
selalu berusaha apa yang ku punya juga ia miliki. Mungkin orang akan berpikir
Hyun Sung memanfaatkanku, tapi hanya ini caraku agar perbedaan di antara kami
tak terlihat.
Penerimaan
siswa baru sudah di lakukan. Kami berbeda kelas, dan jadwal sekolahku berbeda
dengan Hyun Sung. Hyun Sung mengikuti kelas khusus, sedangkan aku tidak. Eouma
katakan padaku, jika aku mengikuti kelas khusus, maka kondisi kesehatanku akan
menurun. Sekarang perbedaan di antara kami begitu besar dengan berbedanya
kelas.
“Hye Rin_sii… Apa kau ada menghubungi
Hyun Sung_sii?” tanya Ricky padaku
“Annio sunbae… aku takut menganggunya.” Jawabku.
“Kau terlalu peduli padanya…” kata Ricky
“Aku hanya ingin menjadi sahabat yang
selalu peduli padanya…” jawabku tersenyum
Perasaanku
pada Ricky masih tetap sama, walau ku coba beralih pada namja lain, entah
mengapa aku tetap saja melihat Ricky berbeda. Hyun Sung tentu tahu tentang
perasaanku pada Ricky. Dulu ia sempat membantuku untuk dekat dengannya, namun
hasilnya nihil. Tapi, sekarang? Bahkan Ricky lah menghampiriku. Aneh rasanya…
“Ehm… Hye Rin_sii… Bagaimana menurutmu
tentang Hyun Sung_sii?” tanya Ricky sambil melihat ke langit
“Ku pikir dia yeoja yang tegar… Aku
begitu menyayanginya, lebih dari saudara. Walau aku anak tunggal” kataku
“Bolehkah aku memilikinya?” tanya Ricky
Apa?
Ricky menyukai Hyun Sung? Benarkah ini? Namja yang ku sukai selama ini sekarang
mengatakan padaku bahwa ia menyukai sahabatku. Rasanya begitu sakit, apa ini
benar-benar nyata? Aku tersenyum pada Ricky. Dan berkata.
“Kalau subae bisa membuatnya bahagia…
Kenapa tidak..” jawabku
“Bagaimana caraku mengungkapkan
padanya…?” tanya Ricky padaku
“Sunbae hanya harus menunjukkan rasa
perduli padanya” kataku.
Ia
mengangguk pelan padaku. Lalu pamit. Aku tetap di sini, di taman tempat aku
biasa duduk bersama Hyun Sung yang sekarang sedang berada di sekolah. Aku
benar-benar kesepian. Aku memiliki sahabat, memang sahabatku dari kecil. Tapi
saat di smp aku dan dia berbeda sekolah. Itu membuat hubungan kami sedikit
berkurang karena jarang bertemu. Tapi saat di SHINWA High School kami menjadi
dekat. Walau aku memiliki sahabat yang datang kembali padaku, tapi bagiku
tempat untuk Hyun Sung masih ada. Dalam 3 tahun di SHINWA Junior School, ia
selalu membantuku menyelesaikan masalahku dengan teman-teman di kelas. Suka,
duka kami lalui bersama. Tapi, saat acara kelulusan yang tepat pada hari ulang
tahunku ia tak datang ke acaraku.
Aku
selalu berpikir positif padanya, walau aku tahu bahwa Ren lah yang melarangnya
datang ke pestaku. Bahkan sepertinya Hyun Sung melupakan hari ulang tahunku.
Pikiranku adalah, kalau ia mengingat hari ulang tahunku, ia pasti menentang
Ren. Aku tetap sabar, walau hari itu sahabatku sendiri tidak datang.
“Hye Rin-ah! Ricky sunbae bilang ia
menyukaiku…” Hyun Sung mengirim massage ke padaku
“Ne.. Aku tahu..” balasku
“Kau tak apa?” tanya Hyun Sung
“Aku tak apa… Lagi pula, aku tak
menyukainya lagi” aku berbohong
“Jinja? Benarkah? Apa kau tak sedih?”
tanya Hyun Sung kembali
“Tidak sama sekali…” kataku berbohong
“Terima saja dia…” kataku kembali
“Ehm…” balasnya
Aku
mengangis sendiri di kamar. Aku tak apa-apa… Aku bahagia melihat sahabatku
sendiri bahagia, walau aku harus merelakan namja yang ku sukai selama ini
padanya. Aku lebih merelakan namja itu bersama sahabatku dari pada bersama
yeoja lain. Walau sakit, aku akan tetap tersenyum pada sahabatku ini.
>>SKIP<<
Hari
ini, teman-teman kami saat di SHINWA Junior School mengadakan reunian. Terus
terang, kami sering mengadakannya. Walau belum sampai 1 tahun kami berpisah,
tapi itu lah kekompakkan kelas kami. Sudah 3 kali kami mengadakan reunian, tapi
Hyun Sung tak pernah datang. Alasan utamanya adalah REN! Ren selalu melarangnya
untuk ikut dengan alasan ‘untuk apa pergi reuni kalau kau bisa istirahat pada
waktu itu’. Aku bisa memahami perkataan Ren itu, aku juga berpikir sama karena
itu demi kebaikan Hyun Sung. Tapi, aku benar-benar merindukan saat kami
bersama. Aku rindu saat kami benar-benar berkumpul seperti 1 kelas dulu. Ini
adalah yang ke 4 kalinya kami berkumpul. Kali ini, aku benar-benar ingin Hyun
Sung datang. Aku mengirim massage padanya pukul 20.00. Tapi, ia membalas
massageku tengah malam. Aku tertidur menunggu balasannya, hingga aku terbangun
melihat balasan sahabatku ini. Dengan air mata mengalir aku membaca massage
balasannya.
“Ren menyuruhku untuk tidak
mengikutinya….” Balasnya
Ren..
Ren! Ren lagi! 1 kali saja ia mendengar kata-kataku dan menentang Ren. Tapi
rasanya mustahil. Ke sabaranku cukup sampai di sini. Aku membalas massage na.
“Aish~ ya sudah! Ren aja yang kau
turuti… yang lain TIDAK PENTING juga kok!” balasku.
“Aku juga belum mendapat kiriman dari
orang tuaku…” ia membela diri.
“Ya terserah. Yang lain TIDAK PENTING
kan? Kecuali kata-kata Ren!” balasku, sambil menangis menatap hanphone di
tanganku.
“Ya terserah lah.. Mau bilang apa.
Sekarang kau sudah jauh dariku. Kau sudah gak tahu lagi keadaan ku sekarang
gimana. Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu. Mungkin aku belum bisa
seperti yang kau inginkan..” balasnya.
Tidak..
Jangan katakan itu… Aku takut persahabatan ku dengan Hyun Sung berakhir di
sini…
“Aku bahkan masih ragu dengan kau… Kau
sudah berubah. Teman-teman gak akan cari aku. Sedangkan kau? Kau dekat dengan
mereka, kita berbeda…” balasnya kembali
“Maaf kalau kali ini aku memang
memaksamu Hyun Sung-ah… Sepertinya kita tidak bisa seperti dulu lagi… Kita
sudah punya jalan masing-masing. Tembok di antara kita terlalu tinggi… Bahkan
lebih tinggi dari yang ku bayangkan… Aku tak bisa memahamimu lagi… Maaf…
Jongmal mianhaeyo..” balasku
“Jongmal gumawoyo Hye Rin-ah… Untuk
semuanya….” Balasnya.
Tidak…
Jangan katakan terima kasih padaku! Tidak… Jangan kata itu! Aku tak ingin
mendengar kata itu! Tidak… Aku melakukan
semuanya bukan untuk mendengar kata-kata itu… Aku terus menangis hingga
tertidur.
Pagi
ini aku masih saja memikirkan Hyun Sung. Tiada hari tanpa menyebut namanya, itu yang selalu ku
lakukan dulu. Tapi sepertinya ia bahkan tak memikirkan aku. Aku mulai ragu
padanya, apakah ia bersahabat denganku cuma untuk mengatakan teriama kasih…
Aku
berjalan menuju koridor rumah sakit. Rasanya aku benar-benar tak bertenaga,
eouma menuntunku ke ruangan dokter. Tapi aku sudah kehilangan kesadaranku. Saat
aku bangun, aku sudah di ruang inap. Melihat eouma yang menangis bersama appa.
Apa penyakitku tambah parah? Ku dengar langkah kaki dokter menghampiri orang
tuaku. Samar-samar ku dengar aku hanya dapat bertahan beberapa hari lagi. Aku
tahu penyakit kanker ku tak bisa di sembuhkan. Dan cepat atau lambat ini akan
terjadi. Aku meminta eouma untuk membawakan laptopku ke rumah sakit. Dan di
sinilah aku. Menulis beberapa surat untuk sahabatku, orang tua ku. File ini aku
posting ke blog pribadiku, agar teman-teman ku dapat terus mengenangku walau
hanya blog.
Suratku untuk Hyun Sung :
To : Hyun Sung sahabatku
Harusnya aku
yang berterima kasih padamu, karena kau telah mau menjadi sahabat bagi aku yang
egois ini. Aku bahagia, jika semua yang kau lakukan berhasil dengan sempurna.
Tapi jangan katakan padaku bahwa kau hanya bersandiwara untuk mejadi sahabatku.
Ku mohon, berbohong lah padaku kalau kau menjadi sahabatku tulus dari hati mu.
Maaf jika aku terus memaksamu, aku tumbuh di keluarga yang berbeda denganmu,
tapi aku hanya ingin bukan aku saja yang merasakan kasih sayang itu, aku juga
ingin kau merasakannya. Keputusan sepihak memang… Hanya itu yang dapat ku
lakukan untuk memecahkan tembok di antara kita. Tapi tampaknya bahkan tembok
itu sulit ku pecahkan lagi, aku tak memiliki kekuatan untuk melakukannya lagi,
bahkan di saat terakhir aku tak bisa memelukmu dan mengucapkan terima kasih
atas segalanya…
Aku benar-benar
bukan sahabat yang baik, aku hanya sahabat yang egois selalu mementingkan
keinginanku tanpa memperdulikan perasaanmu. Jongmal Mianhaeyo Hyun Sung-ah…
Gumawo…
Hye Rin~
Aku menangis
mengingat semua yang telah kami jalani bersama. Aku benar-benar merindukanmu
Hyun Sung… Ku harap kau bahagia setelah aku pergi, percayalah pada dirimu, aku
tak ingin kau terus di kendalikan oleh orang lain… Tapi, sepertinya maksudku
tak tersampaikan padamu, bahkan saat terakhirpun aku tak dapat mengatakannya.
Aku mulai kehilangan
kesadaranku, melihat orang-orang yang ku sayangi datang untuk melihatku
terakhir kalinya. Tapi, aku tak
menemukan sosok yang ku cari, Hyun Sung. Tuhan… izinkan sebentar saja aku
melihatnya. Pintu ruangan terbuka, ku dengar isak tangis Hyun Sung, aku
tersenyum dan menutup mataku. Terima kasih Hyun Sung, saat terakhirku aku dapat
melihatmu.
~END~

No comments:
Post a Comment